100% Godbless

100% Godbless

Selasa, 21 Desember 2010

Ugal-Ugalan Bersama Teddy Sujaya

Oleh: Asriat Ginting (KPMI, FORMASI, GBC, penikmat musik)

Seperti biasa, kilas balik dulu ya.

Ide mengundang Teddy Sujaya ini tercetus begitu saja dari mulut Hilman Handoni, host Rock in Rabu, saat kami membahas album Cermin dalam acara tersebut tempo hari. Mendengar beat-beat ganas kreasi Mas Teddy, spontan tercetus dari mulutnya:
 “Kayanya asik juga kalau kita ngundang Teddy Sujaya kesini. Gua suka pukulannya.”
 Entah pukulan drum atau ingin merasakan pukulan Teddy Sujaya yang ia maksud, Wallahu Alam.
“Bener nih?” tantang gua.
Rencanapun digodok spontan di akhir acara. Hanya beberapa menit saja.
Pulang ke rumah, gua pertimbangkan masak-masak untuk merealisasikan rencana tersebut. Karena memang dari 2 kali acara yang menghadirkan pentolan-pentolan kelompok legendaris Godbless (satu wawancara dengan Bang Iyek saat kami menggelar siaran untuk memperingati ulang tahun beliau, satu lagi dengan Bang Donny saat kami menggeber habis album Cermin), semua wawancara hanya dilakukan via telepon. Sepertinya memang asyik kalau sekali-sekali mengundang salah satu personil pionir rock bumiputera tersebut untuk berbincang langsung di studio.
Langkah pertama adalah kasak-kusuk dengan seorang kawan yang identitasnya tersembunyi dibalik huruf-huruf AF. Intinya menanyakan nomor telepon Teddy Sujaya, karena seingat gua beliau sempat bertemu dengan Mas Teddy di acara RSI tempo hari (walau saat itu nampaknya perhatian Bung AF lebih tertuju pada anak Mas Teddy). Oknum AF ini lalu memberikan 2 opsi:
a. Bertanya pada Bpk. Elvin Hendratha
b. Bertanya pada Bpk Gatot Triyono (KPMI)
Gua memilih opsi b – bertanya pada Pak Gatot. Pertimbangannya: Gua menebak kalau nanti pas menelepon Mas Teddy, kemungkinan besar akan ditanya: “Dapat nomor saya dari siapa?” Nah, nama yang paling aman dijadikan backing adalah Pak Gatot itu tadi. Karena KPMI memang pernah mengundang Teddy Sujaya ke Langsat Corner, sehingga pastinya beliau masih ingat.
Langkah kedua: menelepon Teddy Sujaya. Ini yang bikin deg-degan.
“Halo? Dengan Bapak Teddy Sujaya?”
“Ini siapa ya?”
“Saya Asriat dari Green Radio, Pak. Kami punya acara bernama Rock in Rabu yang mengulas band-band rock dalam dan luar negeri. Nah, kami ada rencana mengundang Pak Teddy ke studio, untuk ngobrol-ngobrol bersama kami.”
“Tanggal berapa?”
“Tanggal 11, Pak.”
“Yang dibahas apa?”
“Tentang Godbless, lalu tentang perjalanan karir Pak Teddy pribadi juga.”
“Oh, boleh, boleh.”
“Tapi acaranya malam lho, Pak. Dari jam 22-24.00”
“Oh, tidak masalah. Rabu depan kan, bukan rabu ini?”
“Iya, Pak.”
“Dimana alamatnya?”
“Di Jalan Utan Kayu, Pak.”
“Ngomong-ngomong, dapat nomer saya dari siapa ya?” (Nah, bener kan dugaan gua)
“Dari Pak Gatot KPMI, Pak. Dulu Pak Teddy kan pernah diundang KPMI?”
“Oh ya, ya.”

Begitulah perbicangan pertama dengan Mas Teddy. Sekarang tinggal menyiapkan materi siaran. Tentunya sangat sulit untuk meringkas 30 tahun petualangan musikal seorang Teddy Sujaya ke dalam 2 jam siaran. Apalagi dalam 2 jam siaran tersebut tidak melulu lagu yang diputar, melainkan akan ada perbincangan dengan beliau yang malah menjadi inti acara ini. Belum lagi pembacaan sms dari pendengar. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, 15 lagu gua masukkan dalam playlist. Mewakili sosok Teddy Sujaya sebagai personil Godbless, sebagai session musician, sebagai pencipta lagu, juga sebagai seorang drummer:

01.  Raksasa                                                           -           Godbless
02.  Neraka Jahanam                                              -           Duo Kribo
03.  Dia                                                                   -           Jockie S
04.  Musisi                                                              -           Godbless
05.  Trauma                                                             -           Godbless
06.  Vonis                                                               -           Godbless
07.  Bis Kota                                                           -           Achmad Albar
08.  Pengangguran                                                    -           Achmad Albar
09.  Hard Lovin’ Man (plus drum solo)                     -           Godbless
10.  Mimpi                                                               -           Anggun C Sasmi
11.  Gaya Remaja                                                     -           Anggun C Sasmi
12.  Tua-Tua Keladi                                                  -           Anggun C Sasmi
13.  Kebebasan                                                         -           Mel Shandy
14.  Srigala Jalanan                                                    -           Godbless
15.  Apa Kabar                                                         -           Godbless

Lagu-lagu Godbless yang dipilih adalah lagu-lagu dimana Teddy Sujaya ikut andil dalam proses penciptaannya. Sedangkan Neraka Jahanam dan Dia dipilih karena Mas Teddy adalah yang mengisi drum di kedua lagu tersebut. Hard Lovin’ Man yang aslinya adalah buah karya Deep Purple, dipilih karena ada solo drum dalam lagu tersebut. Konon menurut para saksi mata, solo drum ini adalah menu wajib dan salah satu yang paling ditunggu penonton dalam tiap atraksi Godbless dari tahun 1975 – 80an. Lalu sisanya adalah karya-karya beliau yang pernah menjadi hits besar.
Jadwal sudah ditetapkan, materi sudah disusun. Tugas berikutnya adalah menjaga agar Mas Teddy tidak berubah pikiran. Maka beberapa hari kemudian gua kembali menelepon beliau, untuk konfirmasi bahwa acaranya positif jadi.
“Mas Teddy, jadi ya kita kongkow bareng rabu nanti.”
(kali ini gua mengubah panggilan untuk beliau dari “Pak”, menjadi “Mas”. Pertimbangannya: gua memanggil Achmad Albar dan Donny Fattah dengan sebutan “Bang Iyek” dan “Bang Donny”, maka rasanya aneh aja memanggil Teddy Sujaya dengan ”Pak Teddy”)
“Oh, ya. Jadi. Tapi saya kan nggak begitu hapal daerah situ. Tolong nanti dipandu arahnya ya?”
“Beres, Mas.”
Dalam percakapan via telepon tersebut, Mas Teddy sempat mengagetkan gua dengan pertanyaan: “Masih pada kenal nggak nih orang-orang sama saya?” Astaga. Gua bilang kalau nggak akan ada yang bisa melupakan Mas Teddy sebagai bagian dari Godbless.
Sekalian gua sedikit mengingatkan beliau:
“Mas Teddy ingat nggak, beberapa waktu lalu ada yang menelepon Mas Teddy, dari Madiun, namanya Pak Elvin.”
“Oh, ya. Kita ngobrol lama juga tuh.”
“Nah, obrolan itu ditulis Pak Elvin di situs beliau dengan judul: “Ini Dia Alasan Mengapa Teddy Sujaya Keluar Dari Godbless”. Tanggapannya ngamprak, Mas. Sampe Mas Jockie juga ikut nimbrung.”
“Oh ya?” Ucap Mas Teddy setengah tidak percaya.
“Oke nanti saya minta izin sama Pak Elvin untuk nge-print tulisan beliau. Biar Mas Teddy nanti baca sendiri dah.”
“Boleh, boleh.”
Nah, demikianlah percakapan kedua dengan Mas Teddy. Tinggal deg-degan nunggu hari H.

Hari Rabu, 11 Maret 2009.
Saat masih berada dalam kendaraan umum yang melintas jalan Daan Mogot, Mas Teddy sms:
“Mas, jam berapa saya harus sudah ada di studio?”
Gua jawab jam 9. Karena sebelum siaran memang rencananya mau ngobrol2 dulu.
Lalu saat melewati jalan Diponegoro, Mas Teddy menelepon, bertanya kalau dari perempatan Coca Cola, Utan Kayu ke arah mana? Gua jawab: ambil jalan by pass yang menuju Cililitan, lalu sampai perempatan lapangan Golf, yang kalau ke kiri menuju ke Rawamangun, nah, ke kanan itulah Utan Kayu.
Saat itu jam 20.15.
Jam 20.30 Mas Teddy ngabari kalau beliau kesasar. Sekarang ada di Komplek Kehakiman. Gua jawab masuk aja, nanti mentok belok kanan. Saya tunggu di depan gerbang, saya pake jaket jeans biru.
Tunggu punya tunggu, Mas Teddy nggak juga datang. Lalu tiba SMS bernada putus asa:
“Mas, saya gak tau.”
Wah-wah-wah. Nggak beres nih. Segera gua minta tolong Hilman yang sangat paham medan setempat (padahal saat itu dia masih siaran). Ternyata Mas Teddy kesasar di Balai Rakyat. Maka Hilmanpun menyusul kesana dengan motornya. Saya telpon lagi Mas Teddy: “Lagi disusul, Mas. Nanti ikuti aja motornya, saya tunggu di gerbang.”
Nggak lama muncul Hilman, diikuti Xenia biru milik Mas Teddy. Hilman memberi aba-aba untuk belok mengikuti, guapun sudah melambaikan tangan. Ternyata Mas Teddy malah lurus terus. Adegan dramatis belum berakhir. Hilman kembali mengeluarkan motornya untuk menyusul beliau. Gua sibuk pencet-pencet tombol HP:
“Mas Teddy, kelewatan, Mas!”
“Oh ya, maaf. Ini sambil liat HP sih.”
Tak lama Xenia biru itu muncul lagi, kali ini masuk dengan sukses ke halaman Green Radio. Hilman menyapu keringat yang memenuhi jidatnya. Stress berat dia rupanya.
Mas Teddy keluar. Gua lalu mengajak beliau duduk di Kedai Tempo yang terletak di belakang Green Radio. Sementara Hilman pamit ke atas karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.
Di kantin, gua ngobrol-ngobrol dengan Mas Teddy. Pertama tentunya permintaan maaf gua sampaikan karena nggak becus memandu sehingga menyebabkan Mas Teddy sampai tersesat. Lalu ngobrol-ngobrol seputar apa saja yang akan dibahas di siaran nanti. Tak lupa gua menyerahkan beberapa “cendera mata” yang sudah gua siapkan untuk Mas Teddy. CD Cermin, foto-foto titipan dari Pak Haryono dan tentunya cetakan dari tulisan Pak Elvin yang bertajuk “Ini Dia Alasan Mengapa Teddy Sujaya Keluar Dari Godbless.” Walau mungkin tidak melihat terlalu jelas karena keadaan kantin yang remang-remang, namun Mas Teddy nampak kaget melihat banyaknya tulisan yang menanggapi artikel Pak Elvin tersebut.
“Wah, nanti saya baca di rumah.” Ucapnya sambil memasukkan CD, artikel dan foto ke dalam tas hitam miliknya. Saat itu Mas Teddy juga membawa koleksi Godbless milik beliau yang mungkin kedua terlengkap setelah Ian Antono. Beliau menyimpan hampir seluruh album Godbless (kecuali Huma Di Atas Bukit, yang saat itu gua berikan copy-nya karena gagal mendapatkan yang asli). Selain itu ada juga DVD berisi klip “Huma di Atas Bukit” versi remake dan lainnya.
Jam 10 kurang sedikit, Hilman turun, mengajak kami ke studio baru di lantai atas (catatan: sebelumnya studio tempat biasa kami siaran berada di lantai bawah).
Jam 10 lewat sedikit, acarapun dimulai. Diawali dengan lagu “Raksasa”. Setelah itu introduksi. Ada sedikit kejadian unik disini, dimana gua menolak menyebut Mas Teddy sebagai ex-Godbless. Memang buat gua, Mas Teddy selamanya adalah drummer Godbless.
Kelar Raksasa, kami membahas awal karir Mas Teddy.
“Saya belajar drum umur 10 tahun. Saya ingat kaki saya belum nyampe nginjak pedal. Lalu gabung ke band anak2 AL. Waktu itu maininnya ya Beatles. Lalu sempat ke beberapa band sebelum main di Bharata bersama Abadi Soesman dkk. Udah gitu, Achmad Albar datang ngajak bikin band, sama Ludwig Lemans. Tapi karena nggak ada yang ngebosin, ya nggak ada alatnya, akhirnya nggak jadi. Saya lalu diajak Yan untuk main di Bentoel.
  
Setelah itu “Neraka Jahanam” diputar.
Kelar “Neraka Jahanam”, acara lanjut lagi:
A: Bisa cerita nggak, Mas Teddy, awal mula bisa masuk ke Godbless lagi?
TS: Waktu saya nggak kerasan di Malang. Di sana kan sepi nggak kayak Jakarta. Akhirnya saya balik lagi, tapi nggak keluar dari Bentoel. Lalu ketemu Yockie, diajak masuk ke Godbless. Ternyata mereka lagi nyari pemain gitar juga. Naah, gantian saya ngajak Yan.”
A: Terus kasus nggak tuh dengan Bentoel?
TS: Nggak karena kita nggak ada kontrak2an.
A: Waktu mendampingi Deep Purple tahun 75, ada kesan2 khusus?
TS: Waduh, lain kali biarpun artis besar yang ngomong, jangan langsung percaya dah.
A: Maksudnya gimana tuh, Mas Teddy?
TS: Ya, pengalaman pahitlah. Sebelumnya kita orang main sama Deep Purple gitu, kita
      pertemuan di Tropicana. Disitu Jon Lord bilang: “Kita pake alat sama-sama.” Gitu
      katanya. Karena dia orang bawa alat itu untuk main di ruang tertutup, bukan untuk
      stadion. Jadi kurang nendang. Nah, kita campur. Ya udah deh kita pake alat Godbless
      juga. Kita ambil dah yang dari Jakarta, kita gabungin biar bisa buat main di stadion.
      Pokoknya asik dah, ngomongnya. Nanti kamu main begini, sama-sama. Alat sama-
      sama, lampu sama-sama. Eeh pertama kita mau main, drum saya ditendang2! Saya
      disuruh turun. Ya udah akhirnya kita nggak main tuu..
      Malam keduanya, Denny Sabri datengin kita orang. “Pokoknya lu musti main, gini-
      gini-gini.. Akhirnya kita bilang, kalau kita main ya kita musti dihargain dong.
      Akhirnya dikasih, tapi waktunya dibatesin. Jadi hari keduanya kita main. Pas kita
      main... itu kan perjanjiannya alat sama-sama, mustinya kan itu operator dari kita
      kan? Tapi nggak dikasih sama dia. Jadi dia yang nanganin. Nah, pas kita main, kan
      sambutannya banyak. Eh, dikecilin sama dia. Lampu kalau nggak salah cuma
      dikasih dua warna.
A: Wah, persaingan nggak sehat nih.
TS: Akhirnya manajer saya, Pak Hendra yang sekarang punya Mata Elang, itu langsung
      dia naek. Dia itu orangnya kan memang panasan. Dia bilang: “Kenapa lu kecilin?”
      Dijawab, “Gua musti berbuat apa dong? Karena lu kan band pendamping.”  Lah,
      saya digituin. Akhirnya nggak bisa ngomong apa-apa dah saya.
H: Tapi walaupun dengan sound yang minim, konon mainnya lebih bagus dari Purple.
      Ini karena panas atau bagaimana?
A: Karena banyak yang bilang mainnya bagusan Godbless daripada Deep Purple. Apa
     karena emosi, ingin membuktikan diri?
TS: Godbless ya sebelum buka Deep Purple kan namanya udah ada juga. Apalagi main
       bareng band gede gini. Ya pengen nunjukinlah.

Lagu ketiga: “Dia” dari “Jurang Pemisah”. Uniknya, Mas Teddy sendiri hampir lupa kalau beliau pernah ngisi drum di lagu ini.

A: Huma di Atas Bukit, itu kan pengalaman pertama Godbless rekaman album. Bisa
    diceritakan kesan pertama waktu rekaman?
TS: Waduh, ini juga nih. Ini rekaman tapi mixernya mixer radio. Jadi hasilnya begitulah.
      Mengecewakan.
A: Kalau penggarapannya sendiri makan waktu berapa lama?
TS: Nggak lama karena lagu2 ini kan sebelumnya udah ada. Kayak Huma Di Atas Bukit
      Itu kan dari film Laela Majenun. Lalu yang lain2nya juga udah sering kita mainkan
      juga.
H: Lagu Mas Jockie tadi kan agak ngepop, lalu bagaimana Mas Teddy menangani sebuah
     album pop dan rock.
TS: Sebenernya album Jurang Pemisah itu kan albumnya Yockie. Yockie kan Godbless
       juga. Jadi saya udah taulah maunya dia bagaimana. Udah paham.
Giliran SMS dibacakan. Yang pertama mendapat kehormatan adalah SMS Pak Elvin Hendratha dari Situbondo. Isinya: Semua lagu yang diciptakan, baik saat solo maupun bersama Godbless, mengapa penggarapan lirik selalu ditulis orang lain? Apakah ini tanda ke-tidak pede-an Mas Teddy, atau ini bukti bahwa Mas Teddy tidak romantis?
TS: Bisa juga, bisa juga (sambil ngakak).
H: Gimana ceritanya, Mas?
TS: Sebenernya bukannya saya nggak bisa gitu ya. Begini lho, karena saya kan udah
      mikirin ini itu, jadi udah capek. Bikin lirik itu kan makan waktu. Jadi saya Cuma
      bisa ceritain aja, saya maunya gini-gini-gini. Nanti saya liat, kalau belum cocok, saya
      bilang: Wah ini kurang nih. Jadi ide tetap dari saya.
H: Tapi soal romantis, apakah itu tanda ketidak romatisan Mas Teddy juga?
TS: Mungkin juga kali ya (gremeng-gremeng).
A: Wuahahaha..
H: Haa.... ngomongnya kok pelan-pelan?
TS: Kalau bikin cinta-cintaan gitu saya nggak bisa dah.
Masih ada 2 sms lagi yang dibacakan, yang isinya menanyakan keterlibatan Mas Teddy di album baru Godbless dan apa album terakhir Godbless bersama Teddy Sujaya. Jawabannya gak usah gua tulis karena semua pasti udah pada tau.
Lanjut ke lagu berikut “Musisi”.
Tentang album Cermin ini sayang sekali belum bisa ditulis disini, karena rencananya akan gua tulis terpisah. Mohon para pembaca bersabar, karena saat ini proses investigasinya sedang berjalan. Lebih asyik kalau kita membaca tentang Cermin ini secara terpisah. Yang jelas sempat gua tanya, apakah lagu2 dari album Cermin itu semua pernah dimainkan di panggung? Dijawab oleh Mas Teddy ada 4 atau 5. Diantaranya Musisi, Anak Adam, Insan Sesat, Sodom Gomorah.
Setelah itu diputar “Trauma” dari album “Godbless 88”.
A: Ini dikarang oleh Mas Teddy, kolaborasi dengan Iwan Fals, ya Mas?
TS: Ya, notasinya saya, liriknya Iwan Fals.
A: Mas Teddy sendiri pertama membuat lagu untuk Godbless itu lagu apa ya?
TS: Musisi. Itu juga berdua sama Donny. Saya bagian reff-nya.
A: Jadi melodi berdua, lalu liriknya Mas Donny.
TS: Ya.

 Dari cover sebelah dalam "Cermin" rilisan JC Records.

A: Untuk lagu Trauma sendiri, Mas Teddy pesen nggak tuh, “Saya maunya kayak
     gini.”
TS: Nggak. Itu terserah Iwan. Pokoknya beatnya kayak gitu. Cepet.

Pembacaan SMS lagi. Kali ini nggak terduga ada SMS dari pakar rock bumiputera, Bpk. Theodore KS, yang isinya bukan bertanya, tapi mengingatkan: “Ted, dari album Cermin, Selamat Pagi Indonesia dan Balada Sejuta Wajah juga dibawain lho.”
TS: Oiya. Hehe..
Lalu ada SMS dari Taufik Farid, Pak Haryono Purwokerto, Pak Rizal Bekasi, Mas Yudhi yang isinya sama: Menanyakan siapa drummer Indonesia di era 70an yang disegani oleh Mas Teddy? Ternyata jawabannya: Murry Koes Plus, yang dianggap oleh Mas Teddy telah memberi warna tersendiri pada lagu2 band tersebut. Kalau untuk drummer luar, Mas Teddy mengidolakan John Bonham (Led Zep).
Giliran “Vonis”, hasil kolaborasi Jockie dan Teddy yang diputar. Menurut Mas Teddy, ini adalah stok lagu dari album Raksasa yang disimpan oleh Log, lalu dirilis sebagai B-sidenya singel Mel Shandy, bersama dengan Gank Pegangsaan. Saat menyimak judul lagu tersebut, Mas Teddy tadinya nggak ngeh. Tapi begitu mendengar intro keyboard dan hentakan drumnya, memori tentang lagu "Vonis" kembali ke dalam otak beliau.
“Oh yaaa.. yaa.. saya inget.” Iapun mulai ikut bersenandung sambil kakinya menghentak-hentak mengikuti beat lagu tersebut.

Setelah siaran berita dan iklan gig Gugun and The Blues Shelter, mengalun lagu "Bis Kota", yang merupakan penanda dimulainya sesi kedua acara ugal2an bersama Teddy Sujaya ini.

Ternyata sodara-sodara, lagu Bis Kota ini tadinya bukan diciptakan untuk Achmad Albar, melainkan untuk seorang penyanyi baru yang Mas Teddy lupa namanya. Karena lagu tersebut nggak dirilis2, akhirnya Mas Teddy mencabut dan menawarkannya pada Bang Iyek. Setelah Bang Yek setuju, mulailah Mas Teddy menawarkan pada beberapa produser. Pertama ke Log Zhelebour. Ditolak. Baru ke Pak Budi. Diterima. Diluar dugaan Mas Teddy, lagu tersebut meledak dan jadi hit besar.

"Ya itulah, kita kagak bisa nebak. Kadang bikin lagu bagus tapi kalo lagi apes ya nggak kedengaran gaungnya. Semua itu rahasia Yang Di Atas." Ucapnya.

Yang unik lagi, menurut Mas Teddy, dulu saat tur Raksasa, lagu Bis Kota ini sering banget diminta penonton. Mereka pada teriak2: "Bis Kota! Bis Kota!"

"Mungkin karena di klip-nya kan yang main saya, Eet, Iyek, keyboardnya Andi Ayunir, jadi orang ya ngeliatnya kaya Godbless aja. Hehe.." Jelas beliau sambil terkekeh.

"Terus pernah dimainin di panggung bersama Godbless nggak, Mas Teddy?"

"Nggak. Kagak boleh sama Log. Karena rekamannya kan bukan sama dia, jadi dia nggak suka. Harusnya nggak boleh begitu dong. Fair-fair aja."

Setelah Bis Kota, giliran rekaman bootleg "Hard Lovin' Man" diputar. Sebenarnya ini lagu Deep Purple, cuma ada solo drum Teddy Sujaya di ujung lagu. Tujuan gua memutar lagu ini memang untuk menunjukkan sosok Teddy sebagai salah satu top drummer Indonesia pada masa itu. Kalo diperhatikan, struktur solo drum dari Teddy Sujaya ini selalu bermetamorfosa dari tahun 75-84. Jika memperhatikan rekaman2 show mereka di era 70an, pukulan drum Teddy Sujaya saat menggelar solo drum sangat rapat, hampir tak ada celah untuk nafas. Liar. Mirip-mirip solo drum Carl Palmer saat di Atomic Rooster. Di era 80-an, solo drumnya mulai lebih terstruktur dan dibagi menjadi beberapa fase. Solo drum dari era 80-an inilah yang beliau sempurnakan dan dipakai saat "Tur Kembali 97" (saat itu biasanya solo drum dilakukan setelah lagu Musisi).

Saat mendengar solo drum beliau di lagu Hard Lovin' Man tersebut, Mas Teddy sempat bergumam sambil geleng2 kepala.

"Wah, saya udah lupa nih yang ini."

Lalu saat mendengar solo organ Jockie Suryoprayogo, Mas Teddy geleng2 kepala lagi:

"Memang Yockie itu pemain keyboard top. Kalo untuk rock2 gitu, masih dialah nomer satu." Ucapnya.

"Pokoknya formasi Godbless yang paling pas menurut saya ya formasi ini. Iyek, Yan, Donny, saya, Yockie. Udahlah, itu yang paling top."

Menurut Mas Teddy lagi, kalo soal disiplin latihan, skill, anak-anak Godbless itu luar biasa. Nggak ada yang ngalahin.

Nah, setelah Hard Lovin' Man klaar diputer, giliran sosok Mas Teddy sebagai pencetak bintang yang ditonjolkan. 2 lagu Anggun C Sasmi digeber. Mimpi dan Tua-Tua Keladi. Seperti biasa, ada kisah dibalik pembuatan 2 lagu tsb.

"Lagu Mimpi itu tadinya saya ciptakan bukan khusus buat Anggun. Kebetulan Anggun yang waktu itu dikontrak Billboard dan ditangani Yan, albumnya nggak keluar2. Akhirnya saya ketemu ibunya Anggun. Saya bilang ke dia kalau saya punya lagu buat Anggun. Setelah ibunya setuju, saya hubungin produser saya. Setelah semua oke, baru dah rekam."

"Menyangka nggak tuh, kalau lagu itu bakal meledak?" Tanya gua.

"Nggak. Itu semua kan rahasia Yang Di Atas. Hehe,,"

Saat lagu diputar, Mas Teddy sempat menceritakan hal penting yang berkaitan dengan proses penciptaan lagu tersebut (yang tentunya tidak terdengar dalam siaran karena saat itu mic sedang dimatikan).

"Waktu itu perasaan saya lagi galau bener. Saya sewa villa di Puncak. Utak-atik bikin lagu itu pake keyboard. Jadi beberapa lagu, diantaranya Mimpi sama Tua-Tua Keladi."

Mengenai Tua-Tua Keladi, Teddy Sujaya terus terang mengaku kalau inspirasi untuk lagu ini didapat dari beat drum-nya Immigrant Song (Led Zeppelin).

"Cuma kalo Immigrant Song kan nyambung, kalo disini (maksudnya Tua-Tua Keladi) beat-nya saya patah-patahin."

Memang saat itu Tua-Tua Keladi meledak jadi hit besar, kasetnya laku sampai 800 ribu copy yang merupakan ukuran luar biasa untuk masa itu. Salah satu faktor penentunya adalah beat drumnya yang unik itu. Yang merangsang orang untuk bergoyang.

Tiba saatnya pertanyaan sakral untuk dijawab: "Mengapa keluar dari Godbless? Apakah ada konflik dengan para personil Godbless yang lain?"

Diluar dugaan ternyata jawaban Mas Teddy diplomatis sekali:

"Saya keluar atas kesadaran sendiri. Karena udah capeklah. Kalau dengan anak-anak saya sama sekali nggak ada masalah. Yaa masih sering telpon2an."

Ini jelas berbeda dengan apa yang pernah beliau katakan pada Pak Elvin, pada saya via telepon, dan pada Hilman sebelum siaran. Tentu saja Hilman tidak puas mendengar jawaban yang lain dari yang tadi didengarnya ini. Dengan cerdik ia mengulangi pertanyaan yang sama. Setengah memaksa. Akhirnya keluar juga jawaban aslinya:

"Dengan anak-anak saya sama sekali nggak ada masalah. Memang ada salah paham kecil dengan Log. Ini karena kami nggak punya manajer. Jadi kalau ada apa-apa kami bingung harus ngomong ke siapa? Log kan produser, tapi dia maunya ngerangkap jadi manajer juga. Itu kan nggak pas. Nah akhirnya lama-lama kesel saya numpuk, saya keluar dah." Jelas Mas Teddy.
                    
"Lalu pernah nggak merasa menyesal keluar dari Godbless?"

"Nggak tuh. Sama sekali nggak."

Namun walaupun tegas-tegas menyatakan tidak menyesal keluar dari Godbless, nampak jelas kalau Mas Teddy masih menyimpan kecintaan yang besar pada band ini. Ia mengoleksi seluruh album-album Godbless, kecuali album pertama yang baru didapatnya menjelang siaran. Ia juga masih menyimpan kenangan manis dari "Tur Kembali 1997" yang diceritakannya dengan bersemangat sebelum siaran. Selain itu TAK ADA SEPATAH KATAPUN yang keluar dari mulut beliau, yang menjelek2an teman-temannya di Godbless. Mas Teddy tetap menaruh hormat pada mereka, dan tetap menganggap kalau sampai sekarang Godbless belum ada tandingannya.

"Mas Teddy kan keluar tahun 2000-an?" tanya Hilman. "Berarti sampai tahun itu Godbless nggak punya manajer?"

"Ya memang. Jadi kalau ada apa-apa kita bingung harus ngomong sama siapa, karena nggak ada channelnya. Memang dulu kayak Reynold Panggabean itu pernah jadi manajer Godbless, tapi ya kita nggak cocok juga."

Pertanyaan terakhir dari gua:

1. Dari sekian banyak album yang pernah Mas Teddy buat untuk artis lain, album apa yang paling berkesan?

Jawabnya: Mimpi - Anggun C Sasmi.

2. Lalu album Godbless apa yang Mas Teddy paling suka.

Jawabannya cukup mengejutkan: Apa Kabar. Bukan Cermin seperti dugaan gua dan Hilman. Alasannya?

"Karena waktu itu kita 'kan lama nggak ketemu, jadi album itu semacam: 'Apa kabar mih para fans Godbless? Gitu. Hehe.."

Lalu tibalah kami di penghujung acara. Hilman mengucap terima kasih dan semoga sukses pada Mas Teddy. Gua juga. Srigala Jalanan dan Apa Kabarpun dipilih sebagai lagu pamungkas dari acara ini.


Saat lagu diputar, gua bertanya memancing:

"Kalau waktu itu manajemennya bagus, mungkin Godbless nggak bakal pecah ya, Mas?"

Setelah berpikir sejenak, Mas Teddy menjawab: "Mungkin juga. Kemungkinan besar iya."

Oh, seandainya saja waktu itu Godbless didukung manajemen kuat.
        

Di lantai bawah kami berpisah. Hilman menuju singgasananya di lantai atas untuk kembali melanjutkan cuap2nya. Gua dan Mas Teddy menuju parkiran.

"Ke arah mana? Ayo saya antar."

"Saya beda arah sama Mas Teddy, Mas Teddy kan ke kanan, saya ke kiri, ntar Mas Teddy malah tambah jauh. Udah biar saya sendiri aja. Udah biasa kok, Mas."

Mas Teddy tetap memaksa untuk mengantar, sedangkan gua bersikeras menolak karena nggak ingin merepotkan beliau. Akhirnya, sosok berbalut kemeja jeans itupun menyalami gua dan masuk ke dalam Xenia birunya.

"Tetap contact2an ya?" Ucap beliau sebelum menutup pintu.

Perlahan Xenia biru itu meninggalkan gerbang. Gua melambaikan tangan sampai mobil itu lenyap dari pandangan. Lalu menyetop taksi, meluncur pulang.


OBROLAN OFF AIR:

Saat “ugal-ugalan” bersama Teddy Sujaya hari itu memang ada banyak sekali momen2 yang tidak tersiar keudara, karena dibicarakan saat mic di studio sedang dimatikan. Berikut adalah beberapa hal menarik yang terjadi saat “off air” tersebut, yang gua anggap masih layak untuk diketahui khalayak.
T (tanya): Waktu Godbless mendapat penghargaan sebagai artis legendaris dari Rolling Stone Indonesia tempo hari, kenapa Mas Jockie nggak naik ke atas?
TS (Teddy Sujaya): Dia nggak dipanggil sama anak2. Saya juga nggak dipanggil. Iman (Fattah) yang narik saya ke atas. Saya ajak Jockie karena saya ngerasa kita orang juga berhak atas penghargaan tersebut. Saya ngedrumin 5 album Godbless (sebenarnya 6 plus album History of Godbless yang ada remake 5 lagu lama Godbless), Jockie main di 4 album. Tapi Jockie nolak karena nggak dipanggil (sama personil Godbless). Saya juga tadinya mikirnya gitu, tapi saya pikir2 lagi, ya saya berhak juga dong. Kan album Godbless sampai yang terakhir semua saya yang ngedrum. Cuma kalau nggak ditarik Iman, saya nggak bakal naik. Iman yang ajak saya.
T: Benarkah sama sekali nggak nyesel keluar dari Godbless?
TS: Kalo soal keluar dari Godbless, saya nggak pernah nyesel. Cuma yang saya sayangkan kenapa waktu saya ribut sama Log, anak-anak diam aja, nggak ada yang belain saya. Cuma mau apa lagi? Saya udah ngomong begitu. Masa saya tarik lagi?
T: Masih cinta sama Godbless?
TS: Masih. Sampai sekarang masih. Wajarlah. Saya kan jatuh bangun sama Godbless udah dari tahun 75. Dulu itu saya yang jalan kesana kemari demi Godbless. Yang nemuin Godbless sama Akuang, Sumber Ria, itu ya saya. Bos2 itu kan adanya di Kota, mana ada yang di Selatan? Waktu Godbless pindah cukong dari Akuang, saya pernah ditodong pistol sama anak Bearland. Sampai begitulah pengorbanan saya buat Godbless. Waktu Apa Kabar dulu, saya yang nemuin Iyek, ngajak bikin album. Iyek bilang, Oke, tapi gua ajak Yan ya? Saya bilang ya silakan aja.

Dan yang paling mengezutkan adalah pengakuan Teddy Sujaya bahwa beliau sama sekali TIDAK PERNAH PUNYA DRUM! Nah lu!
“Bener, kalo nggak percaya tanya tuh anak2 Godbless. Mana ada saya punya drum.”
Terus kalo latihan?
“Kalo mau latihan drum, saya ke night club Blue Moon di Gajah Mada. Kalo siang kan tutup, orangnya pada tidur, nah saya main dah. Kalo udah capek, pulang. Kalo nggak sempet, saya latihan pake pad, ato main ping-pong. Belom lama ini saya dikasih drum sama Gideon Tengker, tapi baru aja nyampe, udah diminta ponakan. Ya udah saya kasih. Saya pikir, dia kan punya tempatnya, ada peredam. Anak saya juga ngeband sama dia. Dia belajar drum juga sama saya. Jadi ya paling kita yang kesana.”
Nah, itu bisa dapet solo drum gitu darimana?
“Ya latihan pake pad, sama imajinasi aja. Kalo sekarang mah enak, tinggal liat DVD, VCD. Kalo dulu paling ya ngebayangin aja.”
Wah. Luar biasa!
Lalu sekarang masih main drum?
“Oh, masih. Kadang ngumpul sama temen2, main Deep Purple, Zeppelin, lagu2 Godbless. Itu temen saya, bos Rheumason, dia kan punya set drum kaya punya John Bonham. Dia punya sound sama persis. Saya sering main kesana, nyoba.”
Kegiatan sekarang ngapain aja?
“Yaa bikin lagu buat album kedua anak saya. Masih kurang 2 lagu lagi. Dulu saya sempat kesel juga waktu album pertamanya beredar. Kayanya kurang dipromosiin gitu. Udah gitu di covernya juga ngga ada fotonya (maksudnya, foto Catherine - anak Mas Teddy). Harusnya kan dipasang, soalnya kan belum ada nama. Terus saya juga ada bikin lagu buat band Lentik.”
Wah, masih produktif ya Mas Teddy.
“Abis kita kalo nggak ngapa-ngapain ya pusing. Saya aja kalo nggak kena drum nih badan nggak enak. Kalo udah gitu, pergi dah ke tempat temen saya tuh yang boss Rheumason. Main gedebak gedebuk. Kalo udah keringetan, enak dah badan.”
Itulah sebagian pengakuan Teddy Sujaya yang diucapkan off the air. Mengejutkan memang, saat mengetahui kalau drummer yang pernah ngegeber lagu2 dengan beat seperti Gadis Binal, Friday on My Mind, Anak Adam, Musisi, Trauma dsb, ternyata seumur hidupnya tidak pernah memiliki drum. “Bingung mau taruh dimana.” Demikian jelas Mas Teddy. Tapi itu juga menjadi satu pemicu buat para drummer, bahwa memiliki alat bukan faktor utama. Bahwa yang penting adalah tekad dan determinasi. Ruarrr biasa ne!

Nonton Dua Godbless di Kamasutra

Oleh: Asriat Ginting (KPMI, FORMASI, GBC, penikmat musik)

Part I : The Meeting

Sabtu, 28 Februari 2009.
Tempat: Salah satu toilet di Plaza Semanggi.
Gua mengganti kemeja yang tadi pagi gua pake mengajar dengan kaos Def Leppard 7 Days Live Tour 1992. Lalu menuju multiplus untuk browsing sambil membunuh waktu.
Apa pasal?
Oke kilas balik sebentar. Awalnya dari rencana gua dan Iman untuk bertamu ke tempat Bang Donny, ngobrol-ngobrol seputar Godbless, terutama sekitar pembuatan album “Cermin”. Bang Donny memang sudah acc, tinggal mencari waktu luang beliau aja. Lalu jumat malam, saat sedang menulis peraturan tata cara menulis aksara Cina di whiteboard (sebagai persiapan kelas malam), HP berbunyi. Dari Iman.
“Mas, saya barusan telpon papah, kebetulan besok papah main di Kamasutra, Crowne Plaza, bareng Anak Adam. Gimana kalo kita ketemuan besok aja disana.”
“Jam berapa, Man?”
“Papah checksound dari jam 2, abis itu disana terus. Saya dari rumah sekitar jam 2 – jam 3. Nanti kita ketemu disana aja.”
“Sip.”
Besoknya setelah ngajar, gua berniat datang agak telat ke Kamasutra, dengan asumsi checksound yang memakan waktu kira-kira 1 jam, maka gua memutuskan datang jam 3 an. Tapi setelah dipikir ulang, gua memutuskan untuk menunggu sms/telpon dari Iman aja. Itulah makanya gua membunuh waktu di multiplus.
Jam 4 sore, HP berbunyi. Dari Iman. Mengabari kalau dia sudah ada di Kamasutra. Gua tutup internet, langsung jalan ke TKP.
Masuk Kamasutra, suasana remang-remang bikin bulu kuduk meremang. Karena nggak betah, gua keluar lagi, telepon Iman.
“Man, loe dimana?”
“Di dalam. Mas Asriat dimana?”
“Ini gua diluar.”
Maka akhirnya kita ketemu diluar Kamasutra. Aneh memang. Ini pertama kalinya gua bertemu langsung sama Iman, tapi udah merasa kaya ketemu teman lama. Mungkin karena sebelumnya sering bertemu di dunia maya, dan mungkin juga karena Iman ini “orang lama”  buat gua, alias gua sudah mengagumi hasil kerjanya bersama LAIN berrrtahun-tahun yang lalu, sebelum gua tahu kalau dia adalah anak Donny Fattah.
Setelah ketemu, Iman langsung ngajak ke dalam, menemui Bang Donny yang lagi asyik ngeliatin panggung.
“Pah, ini Mas Asriat.”
“Apa khabar Bang Donny?”
“Eh, Asriat. Silakan.”
Bang Donny mempersilakan gua duduk bersama beliau. Pertama memang suasananya agak canggung. Gua masih grogi yang efeknya membuat bingung mau ngomong apa. Akhirnya banyakan ngobrol sama Iman. Dengan Bang Donny dan istri beliau, cuma ngobrol tentang siaran Rock in Rabu kemarin yang Alhamdulillah ternyata beliau rekam! Selamat deh dokumentasi berharga tentang “Cermin”.
Nggak lama, datang kejutan lagi. Tau2 nongol Bang Iyek berserta mba Dewi (istri beliau). Begitu bersalaman dengan Bang Donny dan istri, beliau langsung duduk di pojokan.
 “Om Iyek, ini ada Mas Asriat.”
Bang Iyek langsung kaget.
 “Wah, apa khabar?” tanya beliau.
Gua berdiri, tadinya niatnya mau salaman, eeeh gua malah dipeluk. Wah-wah mimpi apa gua semalam? Lalu ngobrol dengan Mba Dewi soal siaran Rock in Rabu edisi 16 Juli yang ditujukan untuk memperingati ulang tahun Bang Iyek. Memang waktu itu Bang Iyek baru saja bebas, dan Mba Dewi yang jadi seksi repot mengurus jadwal wawancara dengan Bang Iyek (walau hanya via telepon, tapi hari itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Bang Iyek bersama kerabat beliau, sehingga waktu wawancara harus disesuaikan agar tidak mengganggu). Selain itu beliau juga sempat menanyakan khabar sepupu beliau yang tinggal di Belanda.
Lalu tiba waktunya checksound.


Part II : The Checksound

Ada 3 band yang melakukan checksound. Parcel, Laskar dan Anak Adam. Rupanya malam itu Bang Iyek akan tampil bersama Laskar. Ini session band yang digawangi musisi senior dan junior. Ada Yaya Moektio (drum), Mas Aris/Haris (bass), dengan 2 musisi muda (pemain gitar dan keyboard yang gua lupa namanya). Mereka mengiringi Andy rif, lalu mengiringi seorang vokalis cewek yang suaranya mirip banget dengan Nicky Astria, terakhir mengiringi Bang Iyek. Suasana checksound berlangsung hangat dan penuh humor. Namun ada kendala saat mereka memainkan “Musisi”. Jadi pas bagian backing vokal: “Kutuliskan kata hati ke dalam bait, oh tercipta lirik”, yang kalau live show Godbless biasa diambil oleh Donny Fattah, Mas Aris dan 2 cewek backing vokal Laskar merasa keteteran. Bukan pada tinggi nadanya, melainkan pada jatuh ketukannya. Maka pas kelar lagu “Musisi”, yang merupakan lagu terakhir di sesi checksound, para personil Laskar (kecuali Yaya Moektio tentunya) menghampiri Bang Donny untuk meminta pengarahan. Bang Donny lalu memberi contoh bagian-bagian vokal yang biasa beliau nyanyikan dalam lagu “Musisi”.


“Bass-nya bagaimana tadi Mas?” Tanya Mas Aris pada Bang Donny.
 “Ya udah oke kok. Yang penting ketukannya aja, nggak usah sama persis nggak apa.”
 “Wah, bagian backingnya susah juga ya. Takutnya mulut sama tangan ini nggak sinkron. Mulut bener tangan salah. Tangan bener mulut salah.” Kata Mas Aris lagi.
 “Atau bisa-bisa tangan mulut salah semua.” Celetuk sang keyboardis Laskar yang walaupun usianya masih muda bener, tapi udah punya skill ciamik yang patut diacungi jempol. Semua pada ketawa.
 “Ini lagu memang bener2 gila. Edan!” ucap gitaris Laskar.
 “Belum pernah di Indonesia ada band bikin lagu kayak gini.” Sambungnya lagi.
Setuju banget.
Setelah itu Bang Donny sempat bertanya pada Mas Aris:
"Itu tadi mainnya di E?"
"Iya, Mas."
"Wah..."
"Ya lumayanlah, mencret2 dikit." Timpal Bang Iyek.
Ternyata sebenernya nada dasar "Musisi" ini sekarang oleh Godbless sudah diturunkan ke C#, walau intro bass-nya tetap di E. Ini demi menyesuaikan dengan vokal Bang Iyek yang usianya sudah melewati kepala 6 itu. Tapi saat checksound, nada dasar yang diambil adalah E, sama seperti versi yang terdapat dalam album "Cermin". Dan ternyata lagi Bang Iyek masih kuat menyanyikan lagu tersebut, walau sebelumnya sudah menyanyikan 5 lagu.
          

Part III : The Chatting
Selesai checksound, Bang Donny, Iman, gua pindah lagi ke atas. Suasana masih rada kaku karena selain rame, juga gua masih belum nemu celah untuk memulai obrolan. Akhirnya ya ngobrol sama Iman lagi, karena sama dia memang banyak yang mau diobrolin. Soal LAIN, KPMI, teman-teman dia yang kebeneran ada juga yang gua kenal. Tapi sayangnya jam 7 malam Iman pamit cabut untuk menghadiri kawinan Ricky Seringai (walaupun nanti janji balik lagi ke TKP). Naaah, tinggal gua berdua sama Bang Donny. Eng-ing-eenggg...
Setelah tinggal berdua itu, justru obrolan gua dengan Bang Donny ngalir kayak banjir bandang. Gaya beliau yang tadinya banyakan diam sambil senyum, plus komentar2 singkat, berganti dengan gaya bercerita yang ceplas-ceplos. Kami banyak ngobrol soal Cermin, soal film dokumentasi Godbless yang sedang berjalan dengan produser Mira Lesmana dan disutradarai Riri Riza, juga soal keterlibatan beliau bersama Anak Adam. Ada juga hal-hal off the record yang nggak bisa gua ceritakan disini, bukan Bang Donny yang minta, tapi gua yang enggak mau itu diceritakan karena menyangkut pengalaman pribadi yang udahlah sebaiknya nggak usah diungkit lagi.
Soal Cermin nanti aja gua bahas kalau semua sudah lengkap. Sementara ini proses investigasinya sedang berjalan. Kita simak aja dulu obrolan berikut ini:
A (Asriat): Bisa cerita soal Anak Adam ini, Bang Donny?
BD (Bang Donny): Jadi saya dihubungi oleh Anak Adam. Mereka itu minta izin mengaransir
         ulang 5 lagu-lagu Godbless ciptaan saya untuk mereka re-arrange dengan
         versi mereka. Saya dukung dan saya bantu karena saya senang kreasi mereka.
         Sudah keluar kok berupa Ring Back Tone.
A: Apa akan keluar juga dalam bentuk CD?
BD: Ya. Saya kira begitu.
A: Lagu Godbless apa aja yang diaransir ulang?
BD: Huma Di Atas Bukit, Sesat, She Passed Away, Badut-Badut Jakarta dan
        Semut Hitam.
A: Bang Donny nanti main lagu apa aja?
BD: Belum tau. Saya belum tau repertoarnya.
A: Sekarang soal Godbless nih, Bang Donny. Apa yang membuat Godbless tau-tau
     berniat bikin album lagi?
BD: Sebenernya tadinya tuh kita udah malas. Lalu Abadi (maksudnya Abadi
       Soesman) datang ke saya. Bilang: Don, gimana kalau kita bangkitin lagi Godbless?
       Godbless ini asset Indonesia, bukan cuma punya lu aja. Ya akhirnya jalan deh.
A: Proses rekamannya sendiri?
BD: Oh, ini paling cepat. Cuma sebulan. Biasanya kan ada yang 6 bulan, setahun.
A: Jadi rilis bulan Maret?
BD: Sepertinya sedikit tertunda. Mungkin 2 bulan lagi.
A: Sekarang soal film tentang Godbless yang sudah mulai digarap. Bang
     Donny bisa cerita?
BD: Oh ya. Udah dimulai kok wawancara dengan kita. Saya udah, lalu Yek juga sudah.
A: Jadinya apakah film dokumenter atau film biografi seperti model2 The Doors nya
     Oliver Stone?
BD: Itu saya nggak tau. Saya serahkan saja sama mereka.
A: Kalau memang film dokumenter, apakah ada dokumentasi Godbless tahun 70an?
BD: Itu saya juga kurang tahu. Jaman itu kan boro2 dokumentasi, mikirnya bisa rekaman aja
       udah bagus. Kalo yang dari tahun 80an mungkin masih bisa dilacak. Biasanya
       yang megang filmnya kan pihak sponsor. Waktu itu perusahaan rokok.
A: Mungkin bisa diambil dari cuplikan film2 kayak Ambisi, Si Doel Anak Modern,
     dsb yang ada Godblessnya?
BD: Ya mungkin bisa juga.

Lalu datang Adam dan Pray (vokalis dan gitaris Anak Adam). Kami ngobrol2 seputar album2 Godbless dan performance Godbless saat membuka show Deep Purple tahun 75.

A: Sebenernya kenapa sih Godbless nggak main di hari pertama?
BD: Kita nggak dikasih. Drumnya Teddy ditendang sama bodyguardnya Deep Purple
       sampe ngeglinding.
A: Padahal banyak yang kecewa sama mainnya Deep Purple waktu itu. Malah banyak
     yang bilang mainnya bagusan Godbless.
BD: Ya karena kita panas aja digituin. Kita mau buktikan kalau Godbless juga nggak
        bisa dianggap enteng.

Seorang personil Anak Adam menanyakan tentang sejarah Godbless (Pray atau Adam gua lupa).

BD: Itu saya yang bentuk bareng Fuad Hassan. Sekitar tahun 68. Fuad waktu itu udah
       ngetop. Udah sering ngiringin artis besar.
T: Berdua doang?
BD: Iya. Saya main gitar, Fuad drum. Kadang sama Broery, kadang sama Idris Sardi.
T: Jadi bukan dibentuk sama Iyek?
BD: Bukaaan. Iyek masih di Belanda waktu itu. Baru pas dia pulang, sering tuh
       nongkrong bareng saya. Ikut nyanyi. Tanya aja Mia (Camelia Malik). Dulu kan
       dia istrinya Fuad. Dia yang ajak Iyek ke tempat saya. Nah, waktu itu Iyek kan
       juga ngajak temannya, Ludwig Lemans, pemain gitar. Makanya saya pindah ke
       bass.
T: Kalo Ian Antono?
BD: Kalau Yan masuknya pas Godbless udah punya nama. Jadi setelah Fuad meninggal,
       kita sempat gabung dengan Nasution Bersaudara (Pegangsaan), baru setelah itu
       sama Jockie, Yan dan Teddy. Yan tadinya main di Bentoel.
T: Dari dulu gayanya mas Ian di panggung sudah galak, Om?
BD: Apanya galak. Yan itu kan dulu pemalu banget. Waktu show pertama dia
       bareng Godbless, eh dia malah ngumpet di belakang ampli. Ya gimana mau jingkrak2,
       orang dia itu ngomong aja susah. Baru pas belakangan karena ngeliat yang lain
       jingkrak-jingkrak, dia ikut2an, eh malah galakan dia gayanya.. hehehe...
(Sebagai catatan agar para pembaca tidak salah paham, atmosfir saat Bang Donny menceritakan ini adalah penuh nuansa nostalgi dan canda. Jadi bukan untuk membangga-banggakan diri ataupun mengecilkan peran teman-temannya. Semata-mata karena beliau sedang ingin mengenang kisah2 lama yang kocak2).
Lalu nasi goreng datang. Kami makan bersama-sama. Lepas makan. Bang Donny permisi karena sudah ditunggu Trans TV dll untuk wawancara. Disini gua belajar lagi tentang kerendahan hati seorang legenda. Alih-alih istirahat di kamar hotel yang nyaman (waktu itu Bang Donny dan rombongan juga udah buka kamar di Crowne Plaza), eeeh malah nemenin gua, ngobrol bareng. Padahal beliau nanti akan naik panggung, yang mana waktu 1-2 jam juga lumayan dipakai untuk istirahat, siap2 dsb.
Saat Bang Donny wawancara, gua sempat bertanya pada Danu, roadies Anak Adam yang juga adik sang gitaris (Pray).
A: Anak Adam musiknya kayak apa sih?
D: Kaya Linkin’ Park gitu lah.
A: Ada rapnya dong?
D: Ada. Adam yang nge-rap.
Aha! Asik juga nih nonton Bang Donny memainkan lagu-lagu Godbless dengan warna Nu Metal. Kayak apa ya?





Part IV : The Show

Sekitar jam 21.00, penampil pertama naik ke atas panggung. Mereka adalah 5 remaja yang mengusung bendera PARCEL. Tiga lagu: Come Together-nya The Beatles, sebuah karya sendiri yang mengingatkan gua pada The Upstairs, dan terakhir Venus (Shocking Blue) mereka geber di atas panggung. Oke, gua tulis dulu sedikit tentang penampilan mereka.
Pilihan lagu sebenernya udah bagus. Paduan dari lagu-lagu lama dan lagu kreasi dhewek. Aransemen yang mereka balutkan pada Come Together dan Venus juga lumayan. Vokalis mereka pada dasarnya memiliki kemampuan olah vokal yang baik, sayang pelafalan Inggrisnya berantakan. Mungkin karena nggak hapal lyricnya, terutama di lagu Come Together. Padahal banyak juga bule yang datang menonton malam itu. Lagu karya sendiri yang mereka suguhkan pada penonton juga cukup asik dan menyegarkan, sayang saat memainkan Come Together, ada sound piano yang terdengar agak mengganggu, walau cuma sebentar aja nongolnya. Yang harus diperhatikan serius adalah seksi gebug. Roffel-roffel yang dia selipkan memang kadang mengagetkan dan menunjang aransemen lagu, termasuk di endingnya Come Together. Sayang pukulannya nggak stabil. Tempo masih naik turun. Ini perlu cepat dibenahi, mengingat musik yang diusung PARCEL ini menawarkan groove sebagai dagangan utamanya. Bassist-nya biasa aja. Permainannya effisien, nggak neko-neko. Gua malah tertarik pada pemain gitar mereka. Teknik bending dia pas solo Come Together pas banget. Mereka cuma harus lebih memperhatikan rythm section dan usahakan menghapal lyric dengan baik saat membawakan lagu-lagu barat.

Kelar PARCEL main, MC naik panggung untuk cuap-cuap. Intinya memperkenalkan tema acara malam itu, Rock Intergeneration. Perpaduan dari rocker senior dan junior. Seorang penonton setengah baya lalu digaet ke atas panggung. Berikut petikan percakapan mereka.
MC: Suka lagu-lagu lama, Pak?
Tamu: Suka.
MC: Kalo lagu-lagu Godbless gimana, Pak? Suka juga?
Tamu: Yaa, lumayan sukalah.
MC: Lagu Godbless apa yang Bapak suka?
Tamu: (terdiam)
MC: Waah, mungkin Bapak lupa judulnya ya? Kalau gitu bisa dinyanyikan aja
       Mungkin, Pak. Sedikit aja.
Tamu: ...Terimalah salamku, yang terakhir kali...
Kontan istri Bang Donny yang nonton di sebelah gua nyeletuk, “Itu mah Rollies atuh, Pak.” Hehe...
Walau salah menjawab, namun Bapak tersebut tetap mendapatkan oleh-oleh berupa 1 buah Majalah KORT.
“Bisa main gitar, Pak?” Tanya MC yang terdiri dari sepasang cewek – cowok itu.
“Nggak bisa.”
“Ya udah nggak apa-apa. Di majalah ini juga ada teks-teks lagu kok. Lumayan buat latihan nyanyi.”
Kelar cuap-cuap, MC ngeloyor turun panggung. Di atas sudah siap LASKAR dengan seorang vokalis cewek yang tadi sore udah gua liat pas checksound. Setelah basa-basi sedikit, 3 lagu mereka usung. Satu lagu barat dan 2 lagu Nicky Astria: Bias Sinar dan Uang. Dari segi vokal dan penampilan, jelas keliatan kalau vokalis cewek yang gua nggak tau namanya ini udah kenyang makan asam garam di panggung. Stage Act nya didukung oleh pilihan kostum hitam yang sexy namun nggak norak. Gayanya juga enak dilihat. Yang jelas, suaranya dahsyat. Kena banget bawain lagu-lagu Nicky Astria. Kelar 3 lagu, dia turun panggung. Penggantinya? Andy rif, yang sorenya juga sempat gua liat saat checksound. Pertama, Livin’ On a Prayer dari Bon Jovi dia geber. Warna vokal memang mirip banget, sayang pas bagian akhir, dimana nada dasarnya dinaikin 1, Andy keteteran. Kelar Livin’ On a Prayer, penonton dihentak dengan 1 nomor lama KANSAS: Carry On Wayward Son. Agak deg-degan juga pas nonton mereka mainin lagu ini, karena pas dicoba saat checksound masih berantakan. Untung lagu berjalan mulus. Kelar 2 lagu, penonton masih minta tambah. Kali ini Andy menyuguhkan satu tembang dari U2, “With Or Without You”. Di lagu ini dia tampil pol-polan, seolah ingin menebus penampilannya yang kurang memuaskan pada lagu pertama tadi. Memang disini Andy nyanyinya dahsyat banget. Mungkin karena dulu sebelum rekaman (atau naik kaset – istilah jadulnya), rif cukup sering juga menggelar nomor-nomor U2 di atas panggung.

Kelar 3 lagu, Andy ngeloyor walaupun penonton masih minta tambah. Mungkin karena schedule yang ketat dan masih ada 2 band lagi yang akan tampil.
MC kembali naik panggung untuk cuap-cuap. Kali ini sejarah Godbless yang mereka ulas. Dari album pertama sampai terakhir mereka ceritakan dengan ringkas sambil ngintap-ngintip contekan di tangan. Yang kocak pas mereka lagi nyeritain album Raksasa.
MC Cewek: Pada album tersebut, Ian Antono keluar, dan posisinya digantikan oleh...
                  mmm... Eet Syaharanie.
 .. Eet Syaharani and The Queen Fireworks???
Saat itu Iman mengajak gua turun karena gua berniat mengambil rekaman show dan juga foto-foto Bang Donny serta Bang Iyek, dan kebeneran bagian depan panggung juga masih kosong. Namun apes buat Iman, dia ke-gep dan dipaksa naik ke atas pentas. Setengah mati dia menolak tapi akhirnya nyerah juga. Tadinya MC nggak mengenal Iman, namun setelah dibisiki kalau ia adalah anak Donny Fattah, MC langsung sumringah.

“Namanya siapa, Mas?”
“Robert. Robert Chaniago.”
“Oke Mas Robert, kita ngobrol-ngobrol sebentar yuk.”
Sementara Iman “Robert” ngobrol dengan MC, awak Anak Adam nampak bersiap-siap di atas panggung. Kelar wawancara, ia mendapat hadiah 1 buah majalah KORT buat “ngulik”, demikian kata MC. Haha..
Lalu giliran Donny Fattah didaulat naik ke atas panggung. Sambil menenteng bass berwarna hitam dan mengenakan kostum serba hitam, beliau menjawab pertanyaan2 kedua MC.

MCow (MC cowok): Selamat malam Om Donny. Wedeeeh, Bassnya kenapa dipeluk
               terus Om Donny?
DF (Donny Fattah): Takut lari.
MCow: Om Donny kan menciptakan lagu-lagu seperti Badut-Badut Jakarta, Semut
            Hitam, dan lain-lain yang diaransemen ulang oleh Anak Adam. Nah, menurut
            Om Donny apa sih susahnya mengaransemen lagu-lagu tersebut untuk
            Disesuaikan dengan musik-musik sekarang?
DF: Kalau aransemen baru memang dia harus berani untuk keluar dari aslinya. Misalnya
       lagu Semut Hitam itu kan aransemennya udah baku, udah dihapal oleh banyak fans
       Godbless, jadi dia harus berani keluar untuk berkreasi untuk membuat sesuatu yang
       lain. Itu tantangan berat buat Adam dan Pray (vokalis dan gitaris Anak Adam yang
       mengaransir ulang lagu-lagu Godbless).
MCew (MC Cewek): Tapi, so far menurut Om Donny tantangan yang Om Donny
             berikan pada Adam dan Pray itu berhasil nggak?
DF: Berhasil sekali, makanya saya bantu dia sekarang.
MCew: Weee.. tepuk tangan dong! Berhasil sekali katanya.
MCow: Melebihi ekspektasi Om Donny jangan2?
DF: Ya, ya, ya. Warnanya lain sekali.
MCew: Kalau begitu, supaya kita tau denger sendiri warnanya kayak apa, langsung aja
           kita saksikan penampilan dariii.... Anak Adam!
Anak Adam yang sedari tadi sudah bersiap di atas panggung langsung menggeber nomor pertama: Badut-Badut Jakarta, sementara backgroundnya menampilkan cuplikan film dokumenter yang menampilkan gedung DPR/MPR, beberapa potongan sidang, dan wajah-wajah yang nampak familiar. Aransemennya memang membuat kaget bagi mereka yang sudah terlanjur akrab dengan versi album “Semut Hitam” alias “Godbless 88”. Aransemen aslinya yang didominasi keyboard dirobak total. Belum abis kaget ini, Anak Adam langsung ngegeber lagu kedua: Sesat. Masih dengan balutan Nu Metal yang pekat. Vokal Adam bolehlah diacungi jempol. Tidak keteteran dalam mendaki nada-nada tinggi, kontrol vokalnya juga bagus. Jari-jari Donny Fattah yang biasanya aktif berkeliaran di fret-fret bass saat menggeber lagu-lagu bersama Godbless, kini lebih banyak menekankan groove. Beliau nampak asyik melebur bersama musik Nu Metal yang diusung Anak Adam malam itu. 

Kelar lagu Sesat, Adam sang vokalis berbasa-basi sejenak, memperkenalkan kedua lagu tersebut kepada para penonton. Kelar basa-basi, terdengar intro piano disusul lengkingan vokal: I feel down and out... Should I get back, or should I cry.. disusul raungan gitar. Astaga, She Passed Away yang aslinya slow galau, dipermak habis-habisan. Lengkap dengan rap ala Linkin’ Park. Untuk masalah keberanian, gua acungi empat jempol pada Anak Adam. Mengaransir lagu-lagu Godbless yang sudah terlanjur punya trade mark tersendiri, butuh keberanian besar. Apalagi kalau aransemen itu jauh dari warna aslinya. Masalah bagus atau nggak itu berpulang ke selera masing-masing. Kalau ingin mendengar bagaimana lagu-lagu lama Godbless direinkarnasikan dalam format yang lebih kekinian, rilisan Anak Adam ini jelas highly recommended. Kalau hanya ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lama Godbless lain lagi ceritanya.

Oke, kembali pada penampilan Anak Adam, setelah She Passed Away, terdengar bunyi sampling berupa beat-beat drum. Lagu apa lagi ini? Ternyata Huma Di Atas Bukit yang lagi-lagi dirombak total. Disini jelas kelihatan kalau Anak Adam ,dengan kreasi mereka, siap menanggung resiko “love ‘em or hate 'em."


Kelar introduksi dari Adam, kembali terdengar intro gitar. Sama sekali nggak ketebak lagu-lagu Godbless yang akan mereka mainkan karena semua atribut khas Godbless udah mereka lucuti dengan hanya menyisakan nada-nada lagu dan lyric yang mereka balut dengan aransemen a la mereka. Pas masuk vokal, baru ketahuan kalau kali ini mereka menggeber lagu “Semut Hitam”. Kelar bait pertama, Adam berteriak: “Sekarang kita sambut... Achmad Albar!” Penonton sontak berteriak histeris. Dari samping panggung, Iyek yang mengenakan jaket plus celana kulit berwarna hitam berlari menghampiri mic dan berduet dengan Adam meneruskan sisa lagu “Semut Hitam”. Ada sedikit perbedaan pada aransemen lagu “Semut Hitam” versi Anak Adam ini jika dibandingkan dengan lagu-lagu lain yang mereka mainkan malam itu, yaitu dengan disisipkannya sedikit warna Rush di tengah dan akhir lagu. Ganas!

Kelar Semut Hitam, Anak Adam turun panggung. Iyek mengajak penonton memberi applaus pada Anak Adam sekaligus memberi pujian pada mereka. Panggung kembali diisi oleh anak-anak LASKAR. Sementara para personil LASKAR bersiap-siap, Iyek berkomunikasi dengan penonton.
“Malam ini saya akan mengajak anda semua bernostalgia dengan lagu-lagu Godbless...” yang tentu saja disambut teriakan riuh dari penonton.
“Anda masih ingat nggak lagu2 Godbless?”
“Masiiih!” Teriak penonton.
“Kita akan coba buka dengan satu nomor lama dari Godbless... Bla..Bla..Blaaa!!!”
Intro Bla-Bla-Bla lalu mengalun dengan sedikit ketidak sinkronan antara keyboard dan drum. Namun setelah itu semua berjalan lancar.

Lagu kedua dalam Achmad Albar's tour de force ini adalah Kehidupan yang aransemen drumnya sudah dirombak menjadi “Khas Yaya” dengan hentakan double bass drum yang nyelip di beberapa bagian lagu. Personil lain juga nampak fasih menginterpretasikan lagu-lagu Godbless secara teks book, dalam artian sama persis plek. Kalau orang buta yang nonton pasti akan nyangka Godbless beneran yang main.

“Tepuk tangan juga buat Yaya Moektio. Godbless juga nih, asli. Asli lho..” Ucap Bang Iyek kelar lagu “Kehidupan”.
“Lagi! Lagi!” Teriak penonton.
“Yeaa. Apa lagi ya? Lagu-lagu Godbless yang kalian kenal apa lagi? Tanya Iyek.
“Panggung Sandiwaraaa!” Teriak penonton lagi.
“Panggung Sandiwara? Oke deh kita coba. Nyanyi bareng tapi ya?”
“Siaap! Siaap!” Balas penonton.
 “Semangat dikit. Udah datang bayar mahal-mahal disini kalau diem aja ngelamun buat apa?” Ucap Iyek bercanda. Penonton ketawa. Memang gua perhatikan sejak datang di Kamasutra mood Bang Iyek sedang bagus. Saat checksound malah beliau sampai nambah satu lagu walau sudah distop.

Lalu meluncurlah intro Panggung Sandiwara. Bukan versi akustik seperti yang belakangan kita saksikan dalam show-show Godbless, bukan juga versi aslinya yang terdapat dalam soundtrack film Duo Kribo. Yang mereka mainkan malam itu adalah versi remake-nya. Penonton (jelas termasuk gua dan Iman yang nonton paling depan) kompak pada koor bareng. Wah bener2 mengharukan. Apalagi vokal Iyek sendiri malam itu sedang dalam top form. Nggak meleset saat mendaki nada-nada tinggi. Apalagi didukung dengan 2 backing vokal cewek yang cukup sukses menjalankan tugas mereka.
“Ada sebuah lagu dari Yockie Suryoprayogo. Dari saudaraku Yockie Suryoprayogo. Mungkin anda masih ingat. Ini tentang jilat-menjilat. Menjilat...Matahari!” Ucap Iyek selepas lagu Panggung Sandiwara. Emosi penonton langsung naik. Lagu ditutup dengan aksi sang gitaris unjuk kebolehan sesaat yang mendapat applaus meriah dari penonton.
 
Kelar Menjilat Matahari, gua berteriak minta lagu “Musisi”.
“Wah, Musisi... Oke kita coba ya?” Jawab Iyek. “Siaap? Sebuah karya dari Donny Fattah! Tepuk tangan untuk Donny!” Penonton sontak memberi applaus.
Apalagi saat intro bass masuk. Penonton tambah gila. Apalagi gua. Ini lagu penuh kenangan. Lebih senang lagi karena yang dimainkan adalah versi “Cermin” yang sama persis sampai ke solo keyboard dan gitarnya. Atraksi sahut2an antara keyboard dan gitar di tengah lagu lagi2 mengundang applaus meriah dari penonton. Ada insiden kecil di tengah lagu, dimana salah satu cymbal yang dipakai Yaya hampir jatuh kalau nggak keburu ditangkap Iyek. Tapi keseluruhan lagu tetap berjalan lancar sampai baris penutup:
“Dengarlah, ketuk nada dalam birama
  Inilah getar jiwa bagi musisi.”
Luar biasa. Menurut gua nggak ada dan nggak akan ada lagi penulis lagu yang bisa mendefinisikan gelora jiwa seorang musisi lebih baik dan lebih indah dari Donny Fattah. Hanya dengan 2 kalimat di atas beliau bisa menjelaskan bahwa anugerah terindah bagi seorang musisi yang bisa membuat jiwanya bergetar adalah saat mendengar karyanya dimainkan.
Selanjutnya Bang Iyek memanggil Adam dan Andy rif naik ke atas panggung. Namun sebelumnya kedua MC kembali cuap-cuap. Intinya berterima kasih kepada pendukung acara, majalah KORT, dll berikut informasi kalau bulan depan Godbless akan merilis album baru.
Udah ketebak apa yang bakal dinyanyikan mereka bertiga (Achmad Albar, Adam dan Andy rif). Rumah Kita dari album Godbless 88.
“Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini. Rumah Kita.”
Kelar udah acara. Menyaksikan dua “Godbless” di atas panggung, satu dalam warna Nu Metal, satu dalam warna original. Bener-bener paket 2 ini 1 yang sensasional!
Jam 1 lewat, gua berpisah dengan Bang Donny dan keluarga di depan Crowne Plaza.
“Terima Kasih ya. Main-mainlah ke rumah. Salam juga buat istri.” Ucap Bang Donny sebelum kami berpisah.
Sungguh malam yang penuh anugerah!

Terima Kasih Godbless

 Oleh: Asriat Ginting (KPMI, FORMASI, GBC, penikmat musik)


Setelah 10 tahun, hari Sabtu kemarin, 25 Agustus 2007, gua kembali menyaksikan penampilan full Godbless di atas panggung di Parkir Timur Senayan. Acara gratisan ini disponsori oleh Partai Amanat Nasional dalam rangka ulang tahun ke 9 partai tersebut.

Acara yang sedianya dijadwalkan mulai pukul 19.30 itu baru dimulai pukul 20.00 lewat. Galagasi, band muda beraliran rock jadi band pertama yang tampil membuka show Godbless malam itu. Tampil dengan formasi barunya, Galagasi yang artinya “Laba laba besar” menggeber 5 lagu, namun tak satupun lagu yang dicomot dari album perdana mereka (Tentang Manusia – 2006). Dua lagu pertama diambil dari album mereka yang katanya akan dirilis tahun depan. Selesai 2 nomor keras tersebut, Galagasi menurunkan tempo mereka dengan memainkan sebuah nomor slow dari soundtrack film De Bijis, “Kau Nyata”. Nomor ini mengingatkan gua pada lagu-lagu slow Quireboys atau Faster Pussycat. Agak ngeblues dan cukup ampuh untuk mengambil hati penonton. Kelar “Kau Nyata”, emosi penonton dinaikkan lagi dengan sebuah nomor lawas milik The Beatles, “Come Together” yang mampu mereka hadirkan dengan aransemen baru yang segar. Sebagai lagu kelima (lagu terakhir dari Galagasi), band yang dimotori oleh Evan antono (drums) dan Rocky Antono (bass) ini menggeber sebuah nomor rock klasik karya ayah mereka, Ian Antono : “Neraka Jahanam”nya Duo Kribo. Wah, mantap dah.

Selesai Galagasi, gua menengok berkeliling. Ternyata sudah cukup banyak penonton yang datang. Padahal saat gua datang ke lokasi acara ini pada pukul 18.35, yang datang baru 100an orang. Sempat pesimis juga, “Apakah Godbless sudah dilupakan penggemarnya, sampai-sampai konser gratisan aja nggak menarik penonton?” Apalagi di hari yang sama digelar Urbanfest di Pantai Karnaval dan Ulang Tahun RCTI (di Senayan juga). Ternyata pesimisme gua itu tidak beralasan. Kelar Galagasi, udah ada sekitar 1000 penonton yang datang. Godbless naik panggung?

Oh, nanti dulu. Setelah panggung dirapikan usai Galagasi main, MC kembali naik panggung. Kali ini mengumumkan penampil berikutnya yang ternyata adalah seorang penyanyi jalanan bernama julukan Mantri Country. Katanya sih mereka ‘merekrut’ penyanyi jalanan ini dari kawasan Blok M, sebagai bukti bahwa PAN tidak pilah-pilih dalam mencari artis untuk mengisi acara ulang tahunnya ini. Bahkan penyanyi jalananpun mereka ajak untuk menyalurkan kreativitasnya di atas panggung. Bener enggaknya? Wallahu Alam.

Mantri Country lumayanlah untuk membuat penonton santai sejenak. 2 lagu yang ia nyanyikan dengan iringan gitar elektrik yang setemannya fals itu cukup menghibur. Susah menjabarkan musik Mantri Country ini. dibilang country juga bukan. Agak ngeblues tapi pola gitarannya mirip-mirip Sonic Youth gitu. Lirik lagunya sendiri berkesan asal-asalan. Yang pertama ngalor ngidul cerita tentang “Makan tomat pake ayam”, sedangkan lagu kedua yang riff-nya rock and roll bertema tentang pipis. “Waktu tidur aku pipis, selimut kasur basah semua, paginya aku dijewer mama, sakit-kit-kit. Aku kapok, sekarang sebelum tidur, aku pipis dulu.” Kira-kira begitulah lirik lagu kedua Mantri Country ini.

Selesai penampilan Mantri Country, muncul Jet Liar (bukan dibaca Jet Laier seperti sering diucapkan orang). Band yang udah lama nggak kedengeran kabarnya ini tampil dengan formasi Fail (gitar), Yessy (ritem), Iwan Xaverius (bass), Bakkar (drums) dan Nicky (vokal). Tanpa basa-basi, panggung mereka geber dengan lagu-lagu dari album mereka yang katanya akan dirilis tahun ini. Satu lagu Godbless, “Srigala Jalanan” mereka mainkan malam itu. Dilihat dari segi musikal, lagu-lagu cadas milik mereka sih cukup menjanjikan. Apalagi didukung oleh musisi yang kenyang makan asam garam di blantika rock Ibu Pertiwi seperti Iwan dan Bakkar. Khususnya yang terakhir disebut - pukulan drum-nya terdengar begitu enerjik, plus rofel2 drum khas Bakkar (rentetan snare drum dipadu dengan double pedal yang sering muncul di lagu-lagunya Rotor dulu).

Setelah Jet Liar turun panggung, muncul lagi seorang penyanyi jalanan. Kata MC, penyanyi ini bernama Gimin, yang “direkrut” dari kawasan Senen. Lagi-lagi dengan embel2 “sebagai bukti bahwa PAN tidak pilah-pilih.” Mas Gimin ini jauh lebih mendingan daripada Mantri Country. 2 lagu yang ia nyanyikan (salah satunya berjudul Ras-Kin) sarat sentilan. Lirik lagunya juga lugas namun cerdas. Iseng gua liat monitor layar yang terbentang di sebelah kiri panggung. Oalah jaann, ternyata Mas Gimin itu tak lain adalah Cak Gareng, arek seniman yang sering nongkrong di Wapres (Warung Apresiasi) bulungan. Beberapa kali gua sempat ketemu dia di rumah salah seorang teman gua yang tinggal di kawasan Ulujami. Wah, bisa-bisanya nih Cak Gareng ngebuka show Godbless.

Naa.. akhirnya, setelah kurang lebih 2,5 jam menunggu, Godbless naik panggung. Penonton yang saat itu sudah mencapai sekitar 5000 orang lebih langsung bersorak kegirangan menyambut dedengkot rock Indonesia ini. (Gua sendiri nggak tau pasti jumlahnya. Gua hanya membandingkan jumlah penonton dengan saat Napalm Death main di Pantai Festival Ancol. Nah, penonton malam itu kira-kira ya segitu lah.) Setelah intro, Iyek berlari masuk ke panggung dan menyapa penonton dengan teriakan khasnya “Selamat malam Jakarta!”. Tanpa basa-basi, panggung langsung mereka gebrak dengan nomor klasik milik Gong 2000, “Kepada Perang” yang disambung dengan “Bla-Bla-Bla” dari album Godbless “Semut Hitam”. Setelah 2 nomor tersebut, Iyek kembali menyapa penonton dan berkomunikasi sejenak dengan mereka. Sebagai lagu berikutnya, 2 lagu milik Gong 2000 kembali mereka sajikan: "Lidah Petaka" dan “Rindu Damai” yang disambut penonton dengan nyanyi bareng.

Kelar “Rindu Damai”, terdengar gamelan Bali mengalun, plus cuplikan klip seorang penari Bali yang nampak di monitor layar yang terpampang di kiri-kanan panggung. “Parawijil sira sang nata ratu. Bepraya awarah-warah akene. Kelawan tasira prajurit muang paliwara makabehan...” Ya, itulah intro “Laskar”, dari album Gong 2000 berjudul sama. Penonton kembali jejingkrakan. Namun lagu itu tidak penuh dibawakan Godbless, mereka menyambungnya dengan satu nomor legendaris Godbless yang ditandai dengan intro bass Donny Fattah. Apalagi kalau bukan “Musisi” dari album “Cermin”. Aransemen lagu ini mereka ubah sedikit. Ada perubahan kord dasar antara intro, lagu, bagian melodi (lead) dan ending. Mungkin nada dasar lagunya disesuaikan dengan vokal Iyek, sementara intro, ending dan bagian melodinya tetap memakai kord asli. Yang menarik lagi malam itu adalah permainan Yaya Muktio yang enerjik dan kelihatan mulai selaras dengan permainan Godbless. Tak disangkal, Yaya membawa nafas baru dalam permainan Godbless malam itu. Beat-beat dan roffel yang ia hadirkan sangat variatif. Kadang ditingkahi dengan permainan double pedal yang tak pernah gua dengar dalam show-show Godbless sebelumnya. Sebagai catatan, tahun 2005 gua juga menonton show Godbless sewaktu membuka konser Uriah Heep dengan drummer Gilang Ramadhan. Waktu itu, terasa permainan Gilang masih belum padu dengan lagu-lagu Godbless, walau tak bisa dibilang jelek. Ia seakan takut mengambil roffel maupun menampilkan variasi pukulan. Tapi malam itu Yaya terlihat berani mengambil inisiatif dengan roffel-roffel drum yang kadang jatuh di ketukan ganjil. Gua pribadi sangat berharap Yaya bisa terus bersama Iyek dkk. Kehadirannya jelas memberi darah segar dalam tubuh Godbless.

Setelah “Musisi”, panggung kembali mereka hentakkan dengan sebuah nomor keras (“Karya sahabat kami Jockie.” Demikian ucap Iyek diawal lagu), “Menjilat Matahari” dari album “Raksasa”. Nomor ini disambung dengan satu karya Jockie lagi, kali ini “Kehidupan” dari album “Semut Hitam”. Wah, reaksi penonton di lagu ini bener2 gila2an. Gua sampai takut pagar yang membatasi kiri panggung roboh digoyang penonton. Tak heran karena “Kehidupan” adalah salah satu dari nomor yang sangat ditunggu penonton. (Sebagai catatan: area penonton dibagi menjadi 3 bagian. Bagian kiri dan kanan alias “kelas festival” diperuntukkan bagi “masyarakat banyak”, sementara bagian tengah alias “kelas VIP” diperuntukkan bagi “para petinggi PAN dan undangan” ketiga bagian itu dipisah oleh 2 pagar besi setinggi 1 meter.)

Lagu berikutnya ditandai dengan intro piano dari Abadi Soesman. Soetrisno Bahir, ketua PAN naik ke panggung. Lagu “Rumah Kita” menggema, diikuti seluruh penonton yang hadir, termasuk Soetrisno Bahir yang ada di atas panggung.

Berikutnya, set akustik yang hanya menampilkan Ian Antono, Abadi Soesman dan Iyek. Bertiga mereka melantunkan Syair Kehidupan dengan Ian dan Donny pada backing vocal. Suara Iyek sendiri tenggelam dalam badai koor ribuan penonton. Bener-bener merinding gua kali ini. Juga waktu lagu berikutnya, “Panggung Sandiwara” dimainkan. Reaksi penonton yang hapal dan ikut nyanyi bareng membuktikan bahwa setelah lama mereka tak menyapa pendengarnya, Godbless masih mendapat tempat di hati para penggemar fanatik mereka (walaupun kedua lagu ini sebenarnya adalah lagu solo Iyek).

Kelar set akustik yang membikin merinding itu, tadinya Godbless ingin memainkan Anak Adam, namun mungkin karena titipan panitia, maka akhirnya yang dimainkan duluan adalah “Menanti Kejujuran”. Sebuah lagu milik Gong 2000 dari album “Laskar” yang juga menjadi tema acara malam itu. Mantan ketua umum PAN, Amin Rais naik ke panggung dan memberi sepatah-dua patah kata disela-sela lagu ini. “Bangsa Indonesia saat ini sedang menanti kejujuran.” Begitu ucapnya. “Tanpa kejujuran akan muncul korupsi dan kemunafikan. Mari bersama Achmad Albar kita menyanyikan Menanti Kejujuran!”

Sebagai nomor penutup malam itu, Godbless memainkan “koncian” mereka seperti waktu di Soundrenaline 12 Agustus lalu. “Anak Adam”, dimedley dengan “Bara Timur” dan “Semut Hitam”, lengkap dengan semburan kembang api dan meriam yang menembakkan potongan kertas warna-warni diakhir lagu.

Akhirnya selesai sudah malam yang berkesan itu. Penampilan Godbless memang patut diacungi jempol. Iyek sangat komunikatif dengan penonton. Diluar sedikit kesalahan yang dilakukan (gua lebih suka menyebutnya “meleset-meleset”), mereka tampil all-out menghibur para penggemarnya malam itu.

Terima Kasih Godbless!

Daftar lagu yang dimainkan:

01. Kepada Perang
02. Bla-Bla-Bla
03. Lidah Petaka
04. Rindu Damai
05. Medley: Laskar/Musisi
06. Menjilat Matahari
07. Kehidupan
08. Rumah Kita
09. Syair Kehidupan (akustik)
10. Panggung Sandiwara (akustik)
11. Menanti Kejujuran
12. Medley: Anak Adam/Bara Timur/Semut Hitam