Oleh: Asriat Ginting (KPMI, FORMASI, GBC, penikmat musik)
Seperti biasa, kilas balik dulu ya.
Seperti biasa, kilas balik dulu ya.
Ide mengundang Teddy Sujaya ini tercetus begitu saja dari mulut Hilman Handoni, host Rock in Rabu, saat kami membahas album Cermin dalam acara tersebut tempo hari. Mendengar beat-beat ganas kreasi Mas Teddy, spontan tercetus dari mulutnya:
“Kayanya asik juga kalau kita ngundang Teddy Sujaya kesini. Gua suka pukulannya.”
Entah pukulan drum atau ingin merasakan pukulan Teddy Sujaya yang ia maksud, Wallahu Alam.
“Bener nih?” tantang gua.
Rencanapun digodok spontan di akhir acara. Hanya beberapa menit saja.
Pulang ke rumah, gua pertimbangkan masak-masak untuk merealisasikan rencana tersebut. Karena memang dari 2 kali acara yang menghadirkan pentolan-pentolan kelompok legendaris Godbless (satu wawancara dengan Bang Iyek saat kami menggelar siaran untuk memperingati ulang tahun beliau, satu lagi dengan Bang Donny saat kami menggeber habis album Cermin), semua wawancara hanya dilakukan via telepon. Sepertinya memang asyik kalau sekali-sekali mengundang salah satu personil pionir rock bumiputera tersebut untuk berbincang langsung di studio.
Langkah pertama adalah kasak-kusuk dengan seorang kawan yang identitasnya tersembunyi dibalik huruf-huruf AF. Intinya menanyakan nomor telepon Teddy Sujaya, karena seingat gua beliau sempat bertemu dengan Mas Teddy di acara RSI tempo hari (walau saat itu nampaknya perhatian Bung AF lebih tertuju pada anak Mas Teddy). Oknum AF ini lalu memberikan 2 opsi:
a. Bertanya pada Bpk. Elvin Hendratha
b. Bertanya pada Bpk Gatot Triyono (KPMI)
Gua memilih opsi b – bertanya pada Pak Gatot. Pertimbangannya: Gua menebak kalau nanti pas menelepon Mas Teddy, kemungkinan besar akan ditanya: “Dapat nomor saya dari siapa?” Nah, nama yang paling aman dijadikan backing adalah Pak Gatot itu tadi. Karena KPMI memang pernah mengundang Teddy Sujaya ke Langsat Corner, sehingga pastinya beliau masih ingat.
Langkah kedua: menelepon Teddy Sujaya. Ini yang bikin deg-degan.
“Halo? Dengan Bapak Teddy Sujaya?”
“Ini siapa ya?”
“Saya Asriat dari Green Radio, Pak. Kami punya acara bernama Rock in Rabu yang mengulas band-band rock dalam dan luar negeri. Nah, kami ada rencana mengundang Pak Teddy ke studio, untuk ngobrol-ngobrol bersama kami.”
“Tanggal berapa?”
“Tanggal 11, Pak.”
“Yang dibahas apa?”
“Tentang Godbless, lalu tentang perjalanan karir Pak Teddy pribadi juga.”
“Oh, boleh, boleh.”
“Tapi acaranya malam lho, Pak. Dari jam 22-24.00”
“Oh, tidak masalah. Rabu depan kan, bukan rabu ini?”
“Iya, Pak.”
“Dimana alamatnya?”
“Di Jalan Utan Kayu, Pak.”
“Ngomong-ngomong, dapat nomer saya dari siapa ya?” (Nah, bener kan dugaan gua)
“Dari Pak Gatot KPMI, Pak. Dulu Pak Teddy kan pernah diundang KPMI?”
“Oh ya, ya.”
Begitulah perbicangan pertama dengan Mas Teddy. Sekarang tinggal menyiapkan materi siaran. Tentunya sangat sulit untuk meringkas 30 tahun petualangan musikal seorang Teddy Sujaya ke dalam 2 jam siaran. Apalagi dalam 2 jam siaran tersebut tidak melulu lagu yang diputar, melainkan akan ada perbincangan dengan beliau yang malah menjadi inti acara ini. Belum lagi pembacaan sms dari pendengar. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, 15 lagu gua masukkan dalam playlist. Mewakili sosok Teddy Sujaya sebagai personil Godbless, sebagai session musician, sebagai pencipta lagu, juga sebagai seorang drummer:
01. Raksasa - Godbless
02. Neraka Jahanam - Duo Kribo
03. Dia - Jockie S
04. Musisi - Godbless
05. Trauma - Godbless
06. Vonis - Godbless
07. Bis Kota - Achmad Albar
08. Pengangguran - Achmad Albar
09. Hard Lovin’ Man (plus drum solo) - Godbless
10. Mimpi - Anggun C Sasmi
11. Gaya Remaja - Anggun C Sasmi
12. Tua-Tua Keladi - Anggun C Sasmi
13. Kebebasan - Mel Shandy
14. Srigala Jalanan - Godbless
15. Apa Kabar - Godbless
Lagu-lagu Godbless yang dipilih adalah lagu-lagu dimana Teddy Sujaya ikut andil dalam proses penciptaannya. Sedangkan Neraka Jahanam dan Dia dipilih karena Mas Teddy adalah yang mengisi drum di kedua lagu tersebut. Hard Lovin’ Man yang aslinya adalah buah karya Deep Purple, dipilih karena ada solo drum dalam lagu tersebut. Konon menurut para saksi mata, solo drum ini adalah menu wajib dan salah satu yang paling ditunggu penonton dalam tiap atraksi Godbless dari tahun 1975 – 80an. Lalu sisanya adalah karya-karya beliau yang pernah menjadi hits besar.
Jadwal sudah ditetapkan, materi sudah disusun. Tugas berikutnya adalah menjaga agar Mas Teddy tidak berubah pikiran. Maka beberapa hari kemudian gua kembali menelepon beliau, untuk konfirmasi bahwa acaranya positif jadi.
“Mas Teddy, jadi ya kita kongkow bareng rabu nanti.”
(kali ini gua mengubah panggilan untuk beliau dari “Pak”, menjadi “Mas”. Pertimbangannya: gua memanggil Achmad Albar dan Donny Fattah dengan sebutan “Bang Iyek” dan “Bang Donny”, maka rasanya aneh aja memanggil Teddy Sujaya dengan ”Pak Teddy”)
“Oh, ya. Jadi. Tapi saya kan nggak begitu hapal daerah situ. Tolong nanti dipandu arahnya ya?”
“Beres, Mas.”
Dalam percakapan via telepon tersebut, Mas Teddy sempat mengagetkan gua dengan pertanyaan: “Masih pada kenal nggak nih orang-orang sama saya?” Astaga. Gua bilang kalau nggak akan ada yang bisa melupakan Mas Teddy sebagai bagian dari Godbless.
Sekalian gua sedikit mengingatkan beliau:
“Mas Teddy ingat nggak, beberapa waktu lalu ada yang menelepon Mas Teddy, dari Madiun, namanya Pak Elvin.”
“Oh, ya. Kita ngobrol lama juga tuh.”
“Nah, obrolan itu ditulis Pak Elvin di situs beliau dengan judul: “Ini Dia Alasan Mengapa Teddy Sujaya Keluar Dari Godbless”. Tanggapannya ngamprak, Mas. Sampe Mas Jockie juga ikut nimbrung.”
“Oh ya?” Ucap Mas Teddy setengah tidak percaya.
“Oke nanti saya minta izin sama Pak Elvin untuk nge-print tulisan beliau. Biar Mas Teddy nanti baca sendiri dah.”
“Boleh, boleh.”
Nah, demikianlah percakapan kedua dengan Mas Teddy. Tinggal deg-degan nunggu hari H.
Saat masih berada dalam kendaraan umum yang melintas jalan Daan Mogot, Mas Teddy sms:
“Mas, jam berapa saya harus sudah ada di studio?”
Gua jawab jam 9. Karena sebelum siaran memang rencananya mau ngobrol2 dulu.
Lalu saat melewati jalan Diponegoro, Mas Teddy menelepon, bertanya kalau dari perempatan Coca Cola, Utan Kayu ke arah mana? Gua jawab: ambil jalan by pass yang menuju Cililitan, lalu sampai perempatan lapangan Golf, yang kalau ke kiri menuju ke Rawamangun, nah, ke kanan itulah Utan Kayu.
Saat itu jam 20.15.
Jam 20.30 Mas Teddy ngabari kalau beliau kesasar. Sekarang ada di Komplek Kehakiman. Gua jawab masuk aja, nanti mentok belok kanan. Saya tunggu di depan gerbang, saya pake jaket jeans biru.
Tunggu punya tunggu, Mas Teddy nggak juga datang. Lalu tiba SMS bernada putus asa:
“Mas, saya gak tau.”
Wah-wah-wah. Nggak beres nih. Segera gua minta tolong Hilman yang sangat paham medan setempat (padahal saat itu dia masih siaran). Ternyata Mas Teddy kesasar di Balai Rakyat. Maka Hilmanpun menyusul kesana dengan motornya. Saya telpon lagi Mas Teddy: “Lagi disusul, Mas. Nanti ikuti aja motornya, saya tunggu di gerbang.”
Nggak lama muncul Hilman, diikuti Xenia biru milik Mas Teddy. Hilman memberi aba-aba untuk belok mengikuti, guapun sudah melambaikan tangan. Ternyata Mas Teddy malah lurus terus. Adegan dramatis belum berakhir. Hilman kembali mengeluarkan motornya untuk menyusul beliau. Gua sibuk pencet-pencet tombol HP:
“Mas Teddy, kelewatan, Mas!”
“Oh ya, maaf. Ini sambil liat HP sih.”
Tak lama Xenia biru itu muncul lagi, kali ini masuk dengan sukses ke halaman Green Radio. Hilman menyapu keringat yang memenuhi jidatnya. Stress berat dia rupanya.
Mas Teddy keluar. Gua lalu mengajak beliau duduk di Kedai Tempo yang terletak di belakang Green Radio. Sementara Hilman pamit ke atas karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.
Di kantin, gua ngobrol-ngobrol dengan Mas Teddy. Pertama tentunya permintaan maaf gua sampaikan karena nggak becus memandu sehingga menyebabkan Mas Teddy sampai tersesat. Lalu ngobrol-ngobrol seputar apa saja yang akan dibahas di siaran nanti. Tak lupa gua menyerahkan beberapa “cendera mata” yang sudah gua siapkan untuk Mas Teddy. CD Cermin, foto-foto titipan dari Pak Haryono dan tentunya cetakan dari tulisan Pak Elvin yang bertajuk “Ini Dia Alasan Mengapa Teddy Sujaya Keluar Dari Godbless.” Walau mungkin tidak melihat terlalu jelas karena keadaan kantin yang remang-remang, namun Mas Teddy nampak kaget melihat banyaknya tulisan yang menanggapi artikel Pak Elvin tersebut.
“Wah, nanti saya baca di rumah.” Ucapnya sambil memasukkan CD, artikel dan foto ke dalam tas hitam miliknya. Saat itu Mas Teddy juga membawa koleksi Godbless milik beliau yang mungkin kedua terlengkap setelah Ian Antono. Beliau menyimpan hampir seluruh album Godbless (kecuali Huma Di Atas Bukit, yang saat itu gua berikan copy-nya karena gagal mendapatkan yang asli). Selain itu ada juga DVD berisi klip “Huma di Atas Bukit” versi remake dan lainnya.
Jam 10 kurang sedikit, Hilman turun, mengajak kami ke studio baru di lantai atas (catatan: sebelumnya studio tempat biasa kami siaran berada di lantai bawah).
Jam 10 lewat sedikit, acarapun dimulai. Diawali dengan lagu “Raksasa”. Setelah itu introduksi. Ada sedikit kejadian unik disini, dimana gua menolak menyebut Mas Teddy sebagai ex-Godbless. Memang buat gua, Mas Teddy selamanya adalah drummer Godbless.
Kelar Raksasa, kami membahas awal karir Mas Teddy.
“Saya belajar drum umur 10 tahun. Saya ingat kaki saya belum nyampe nginjak pedal. Lalu gabung ke band anak2 AL. Waktu itu maininnya ya Beatles. Lalu sempat ke beberapa band sebelum main di Bharata bersama Abadi Soesman dkk. Udah gitu, Achmad Albar datang ngajak bikin band, sama Ludwig Lemans. Tapi karena nggak ada yang ngebosin, ya nggak ada alatnya, akhirnya nggak jadi. Saya lalu diajak Yan untuk main di Bentoel.
Setelah itu “Neraka Jahanam” diputar.
Kelar “Neraka Jahanam”, acara lanjut lagi:
A: Bisa cerita nggak, Mas Teddy, awal mula bisa masuk ke Godbless lagi?
TS: Waktu saya nggak kerasan di Malang. Di sana kan sepi nggak kayak Jakarta. Akhirnya saya balik lagi, tapi nggak keluar dari Bentoel. Lalu ketemu Yockie, diajak masuk ke Godbless. Ternyata mereka lagi nyari pemain gitar juga. Naah, gantian saya ngajak Yan.”
A: Terus kasus nggak tuh dengan Bentoel?
TS: Nggak karena kita nggak ada kontrak2an.
A: Waktu mendampingi Deep Purple tahun 75, ada kesan2 khusus?
TS: Waduh, lain kali biarpun artis besar yang ngomong, jangan langsung percaya dah.
A: Maksudnya gimana tuh, Mas Teddy?
TS: Ya, pengalaman pahitlah. Sebelumnya kita orang main sama Deep Purple gitu, kita
pertemuan di Tropicana. Disitu Jon Lord bilang: “Kita pake alat sama-sama.” Gitu
katanya. Karena dia orang bawa alat itu untuk main di ruang tertutup, bukan untuk
stadion. Jadi kurang nendang. Nah, kita campur. Ya udah deh kita pake alat Godbless
juga. Kita ambil dah yang dari Jakarta, kita gabungin biar bisa buat main di stadion.
Pokoknya asik dah, ngomongnya. Nanti kamu main begini, sama-sama. Alat sama-
sama, lampu sama-sama. Eeh pertama kita mau main, drum saya ditendang2! Saya
disuruh turun. Ya udah akhirnya kita nggak main tuu..
Malam keduanya, Denny Sabri datengin kita orang. “Pokoknya lu musti main, gini-
gini-gini.. Akhirnya kita bilang, kalau kita main ya kita musti dihargain dong.
Akhirnya dikasih, tapi waktunya dibatesin. Jadi hari keduanya kita main. Pas kita
main... itu kan perjanjiannya alat sama-sama, mustinya kan itu operator dari kita
kan? Tapi nggak dikasih sama dia. Jadi dia yang nanganin. Nah, pas kita main, kan
sambutannya banyak. Eh, dikecilin sama dia. Lampu kalau nggak salah cuma
dikasih dua warna.
A: Wah, persaingan nggak sehat nih.
TS: Akhirnya manajer saya, Pak Hendra yang sekarang punya Mata Elang, itu langsung
dia naek. Dia itu orangnya kan memang panasan. Dia bilang: “Kenapa lu kecilin?”
Dijawab, “Gua musti berbuat apa dong? Karena lu kan band pendamping.” Lah,
saya digituin. Akhirnya nggak bisa ngomong apa-apa dah saya.
H: Tapi walaupun dengan sound yang minim, konon mainnya lebih bagus dari Purple.
Ini karena panas atau bagaimana?
A: Karena banyak yang bilang mainnya bagusan Godbless daripada Deep Purple. Apa
karena emosi, ingin membuktikan diri?
TS: Godbless ya sebelum buka Deep Purple kan namanya udah ada juga. Apalagi main
bareng band gede gini. Ya pengen nunjukinlah.
Lagu ketiga: “Dia” dari “Jurang Pemisah”. Uniknya, Mas Teddy sendiri hampir lupa kalau beliau pernah ngisi drum di lagu ini.
A: Huma di Atas Bukit, itu kan pengalaman pertama Godbless rekaman album. Bisa
diceritakan kesan pertama waktu rekaman?
TS: Waduh, ini juga nih. Ini rekaman tapi mixernya mixer radio. Jadi hasilnya begitulah.
Mengecewakan.
A: Kalau penggarapannya sendiri makan waktu berapa lama?
TS: Nggak lama karena lagu2 ini kan sebelumnya udah ada. Kayak Huma Di Atas Bukit
Itu kan dari film Laela Majenun. Lalu yang lain2nya juga udah sering kita mainkan
juga.
H: Lagu Mas Jockie tadi kan agak ngepop, lalu bagaimana Mas Teddy menangani sebuah
album pop dan rock.
TS: Sebenernya album Jurang Pemisah itu kan albumnya Yockie. Yockie kan Godbless
juga. Jadi saya udah taulah maunya dia bagaimana. Udah paham.
Giliran SMS dibacakan. Yang pertama mendapat kehormatan adalah SMS Pak Elvin Hendratha dari Situbondo. Isinya: Semua lagu yang diciptakan, baik saat solo maupun bersama Godbless, mengapa penggarapan lirik selalu ditulis orang lain? Apakah ini tanda ke-tidak pede-an Mas Teddy, atau ini bukti bahwa Mas Teddy tidak romantis?
TS: Bisa juga, bisa juga (sambil ngakak).
H: Gimana ceritanya, Mas?
TS: Sebenernya bukannya saya nggak bisa gitu ya. Begini lho, karena saya kan udah
mikirin ini itu, jadi udah capek. Bikin lirik itu kan makan waktu. Jadi saya Cuma
bisa ceritain aja, saya maunya gini-gini-gini. Nanti saya liat, kalau belum cocok, saya
bilang: Wah ini kurang nih. Jadi ide tetap dari saya.
H: Tapi soal romantis, apakah itu tanda ketidak romatisan Mas Teddy juga?
TS: Mungkin juga kali ya (gremeng-gremeng).
A: Wuahahaha..
H: Haa.... ngomongnya kok pelan-pelan?
TS: Kalau bikin cinta-cintaan gitu saya nggak bisa dah.
Masih ada 2 sms lagi yang dibacakan, yang isinya menanyakan keterlibatan Mas Teddy di album baru Godbless dan apa album terakhir Godbless bersama Teddy Sujaya. Jawabannya gak usah gua tulis karena semua pasti udah pada tau.
Lanjut ke lagu berikut “Musisi”.
Tentang album Cermin ini sayang sekali belum bisa ditulis disini, karena rencananya akan gua tulis terpisah. Mohon para pembaca bersabar, karena saat ini proses investigasinya sedang berjalan. Lebih asyik kalau kita membaca tentang Cermin ini secara terpisah. Yang jelas sempat gua tanya, apakah lagu2 dari album Cermin itu semua pernah dimainkan di panggung? Dijawab oleh Mas Teddy ada 4 atau 5. Diantaranya Musisi, Anak Adam, Insan Sesat, Sodom Gomorah.
Setelah itu diputar “Trauma” dari album “Godbless 88”.
A: Ini dikarang oleh Mas Teddy, kolaborasi dengan Iwan Fals, ya Mas?
TS: Ya, notasinya saya, liriknya Iwan Fals.
A: Mas Teddy sendiri pertama membuat lagu untuk Godbless itu lagu apa ya?
TS: Musisi. Itu juga berdua sama Donny. Saya bagian reff-nya.
A: Jadi melodi berdua, lalu liriknya Mas Donny.
TS: Ya.
Dari cover sebelah dalam "Cermin" rilisan JC Records.
A: Untuk lagu Trauma sendiri, Mas Teddy pesen nggak tuh, “Saya maunya kayak
gini.”
TS: Nggak. Itu terserah Iwan. Pokoknya beatnya kayak gitu. Cepet.
Pembacaan SMS lagi. Kali ini nggak terduga ada SMS dari pakar rock bumiputera, Bpk. Theodore KS, yang isinya bukan bertanya, tapi mengingatkan: “Ted, dari album Cermin, Selamat Pagi Indonesia dan Balada Sejuta Wajah juga dibawain lho.”
TS: Oiya. Hehe..
Lalu ada SMS dari Taufik Farid, Pak Haryono Purwokerto, Pak Rizal Bekasi, Mas Yudhi yang isinya sama: Menanyakan siapa drummer Indonesia di era 70an yang disegani oleh Mas Teddy? Ternyata jawabannya: Murry Koes Plus, yang dianggap oleh Mas Teddy telah memberi warna tersendiri pada lagu2 band tersebut. Kalau untuk drummer luar, Mas Teddy mengidolakan John Bonham (Led Zep).
Giliran “Vonis”, hasil kolaborasi Jockie dan Teddy yang diputar. Menurut Mas Teddy, ini adalah stok lagu dari album Raksasa yang disimpan oleh Log, lalu dirilis sebagai B-sidenya singel Mel Shandy, bersama dengan Gank Pegangsaan. Saat menyimak judul lagu tersebut, Mas Teddy tadinya nggak ngeh. Tapi begitu mendengar intro keyboard dan hentakan drumnya, memori tentang lagu "Vonis" kembali ke dalam otak beliau.
“Oh yaaa.. yaa.. saya inget.” Iapun mulai ikut bersenandung sambil kakinya menghentak-hentak mengikuti beat lagu tersebut.
Ternyata sodara-sodara, lagu Bis Kota ini tadinya bukan diciptakan untuk Achmad Albar, melainkan untuk seorang penyanyi baru yang Mas Teddy lupa namanya. Karena lagu tersebut nggak dirilis2, akhirnya Mas Teddy mencabut dan menawarkannya pada Bang Iyek. Setelah Bang Yek setuju, mulailah Mas Teddy menawarkan pada beberapa produser. Pertama ke Log Zhelebour. Ditolak. Baru ke Pak Budi. Diterima. Diluar dugaan Mas Teddy, lagu tersebut meledak dan jadi hit besar.
"Ya itulah, kita kagak bisa nebak. Kadang bikin lagu bagus tapi kalo lagi apes ya nggak kedengaran gaungnya. Semua itu rahasia Yang Di Atas." Ucapnya.
Yang unik lagi, menurut Mas Teddy, dulu saat tur Raksasa, lagu Bis Kota ini sering banget diminta penonton. Mereka pada teriak2: "Bis Kota! Bis Kota!"
"Mungkin karena di klip-nya kan yang main saya, Eet, Iyek, keyboardnya Andi Ayunir, jadi orang ya ngeliatnya kaya Godbless aja. Hehe.." Jelas beliau sambil terkekeh.
"Terus pernah dimainin di panggung bersama Godbless nggak, Mas Teddy?"
"Nggak. Kagak boleh sama Log. Karena rekamannya kan bukan sama dia, jadi dia nggak suka. Harusnya nggak boleh begitu dong. Fair-fair aja."
Setelah Bis Kota, giliran rekaman bootleg "Hard Lovin' Man" diputar. Sebenarnya ini lagu Deep Purple, cuma ada solo drum Teddy Sujaya di ujung lagu. Tujuan gua memutar lagu ini memang untuk menunjukkan sosok Teddy sebagai salah satu top drummer Indonesia pada masa itu. Kalo diperhatikan, struktur solo drum dari Teddy Sujaya ini selalu bermetamorfosa dari tahun 75-84. Jika memperhatikan rekaman2 show mereka di era 70an, pukulan drum Teddy Sujaya saat menggelar solo drum sangat rapat, hampir tak ada celah untuk nafas. Liar. Mirip-mirip solo drum Carl Palmer saat di Atomic Rooster. Di era 80-an, solo drumnya mulai lebih terstruktur dan dibagi menjadi beberapa fase. Solo drum dari era 80-an inilah yang beliau sempurnakan dan dipakai saat "Tur Kembali 97" (saat itu biasanya solo drum dilakukan setelah lagu Musisi).
Saat mendengar solo drum beliau di lagu Hard Lovin' Man tersebut, Mas Teddy sempat bergumam sambil geleng2 kepala.
"Wah, saya udah lupa nih yang ini."
Lalu saat mendengar solo organ Jockie Suryoprayogo, Mas Teddy geleng2 kepala lagi:
"Memang Yockie itu pemain keyboard top. Kalo untuk rock2 gitu, masih dialah nomer satu." Ucapnya.
"Pokoknya formasi Godbless yang paling pas menurut saya ya formasi ini. Iyek, Yan, Donny, saya, Yockie. Udahlah, itu yang paling top."
Menurut Mas Teddy lagi, kalo soal disiplin latihan, skill, anak-anak Godbless itu luar biasa. Nggak ada yang ngalahin.
Nah, setelah Hard Lovin' Man klaar diputer, giliran sosok Mas Teddy sebagai pencetak bintang yang ditonjolkan. 2 lagu Anggun C Sasmi digeber. Mimpi dan Tua-Tua Keladi. Seperti biasa, ada kisah dibalik pembuatan 2 lagu tsb.
"Lagu Mimpi itu tadinya saya ciptakan bukan khusus buat Anggun. Kebetulan Anggun yang waktu itu dikontrak Billboard dan ditangani Yan, albumnya nggak keluar2. Akhirnya saya ketemu ibunya Anggun. Saya bilang ke dia kalau saya punya lagu buat Anggun. Setelah ibunya setuju, saya hubungin produser saya. Setelah semua oke, baru dah rekam."
"Menyangka nggak tuh, kalau lagu itu bakal meledak?" Tanya gua.
"Nggak. Itu semua kan rahasia Yang Di Atas. Hehe,,"
Saat lagu diputar, Mas Teddy sempat menceritakan hal penting yang berkaitan dengan proses penciptaan lagu tersebut (yang tentunya tidak terdengar dalam siaran karena saat itu mic sedang dimatikan).
"Waktu itu perasaan saya lagi galau bener. Saya sewa villa di Puncak. Utak-atik bikin lagu itu pake keyboard. Jadi beberapa lagu, diantaranya Mimpi sama Tua-Tua Keladi."
Mengenai Tua-Tua Keladi, Teddy Sujaya terus terang mengaku kalau inspirasi untuk lagu ini didapat dari beat drum-nya Immigrant Song (Led Zeppelin).
"Cuma kalo Immigrant Song kan nyambung, kalo disini (maksudnya Tua-Tua Keladi) beat-nya saya patah-patahin."
Memang saat itu Tua-Tua Keladi meledak jadi hit besar, kasetnya laku sampai 800 ribu copy yang merupakan ukuran luar biasa untuk masa itu. Salah satu faktor penentunya adalah beat drumnya yang unik itu. Yang merangsang orang untuk bergoyang.
Tiba saatnya pertanyaan sakral untuk dijawab: "Mengapa keluar dari Godbless? Apakah ada konflik dengan para personil Godbless yang lain?"
Diluar dugaan ternyata jawaban Mas Teddy diplomatis sekali:
"Saya keluar atas kesadaran sendiri. Karena udah capeklah. Kalau dengan anak-anak saya sama sekali nggak ada masalah. Yaa masih sering telpon2an."
Ini jelas berbeda dengan apa yang pernah beliau katakan pada Pak Elvin, pada saya via telepon, dan pada Hilman sebelum siaran. Tentu saja Hilman tidak puas mendengar jawaban yang lain dari yang tadi didengarnya ini. Dengan cerdik ia mengulangi pertanyaan yang sama. Setengah memaksa. Akhirnya keluar juga jawaban aslinya:
"Dengan anak-anak saya sama sekali nggak ada masalah. Memang ada salah paham kecil dengan Log. Ini karena kami nggak punya manajer. Jadi kalau ada apa-apa kami bingung harus ngomong ke siapa? Log kan produser, tapi dia maunya ngerangkap jadi manajer juga. Itu kan nggak pas. Nah akhirnya lama-lama kesel saya numpuk, saya keluar dah." Jelas Mas Teddy.
"Lalu pernah nggak merasa menyesal keluar dari Godbless?"
"Nggak tuh. Sama sekali nggak."
Namun walaupun tegas-tegas menyatakan tidak menyesal keluar dari Godbless, nampak jelas kalau Mas Teddy masih menyimpan kecintaan yang besar pada band ini. Ia mengoleksi seluruh album-album Godbless, kecuali album pertama yang baru didapatnya menjelang siaran. Ia juga masih menyimpan kenangan manis dari "Tur Kembali 1997" yang diceritakannya dengan bersemangat sebelum siaran. Selain itu TAK ADA SEPATAH KATAPUN yang keluar dari mulut beliau, yang menjelek2an teman-temannya di Godbless. Mas Teddy tetap menaruh hormat pada mereka, dan tetap menganggap kalau sampai sekarang Godbless belum ada tandingannya.
"Mas Teddy kan keluar tahun 2000-an?" tanya Hilman. "Berarti sampai tahun itu Godbless nggak punya manajer?"
"Ya memang. Jadi kalau ada apa-apa kita bingung harus ngomong sama siapa, karena nggak ada channelnya. Memang dulu kayak Reynold Panggabean itu pernah jadi manajer Godbless, tapi ya kita nggak cocok juga."
Pertanyaan terakhir dari gua:
1. Dari sekian banyak album yang pernah Mas Teddy buat untuk artis lain, album apa yang paling berkesan?
Jawabnya: Mimpi - Anggun C Sasmi.
2. Lalu album Godbless apa yang Mas Teddy paling suka.
Jawabannya cukup mengejutkan: Apa Kabar. Bukan Cermin seperti dugaan gua dan Hilman. Alasannya?
"Karena waktu itu kita 'kan lama nggak ketemu, jadi album itu semacam: 'Apa kabar mih para fans Godbless? Gitu. Hehe.."
Lalu tibalah kami di penghujung acara. Hilman mengucap terima kasih dan semoga sukses pada Mas Teddy. Gua juga. Srigala Jalanan dan Apa Kabarpun dipilih sebagai lagu pamungkas dari acara ini.

Saat lagu diputar, gua bertanya memancing:
"Kalau waktu itu manajemennya bagus, mungkin Godbless nggak bakal pecah ya, Mas?"
Setelah berpikir sejenak, Mas Teddy menjawab: "Mungkin juga. Kemungkinan besar iya."
Oh, seandainya saja waktu itu Godbless didukung manajemen kuat.

Di lantai bawah kami berpisah. Hilman menuju singgasananya di lantai atas untuk kembali melanjutkan cuap2nya. Gua dan Mas Teddy menuju parkiran.
"Ke arah mana? Ayo saya antar."
"Saya beda arah sama Mas Teddy, Mas Teddy kan ke kanan, saya ke kiri, ntar Mas Teddy malah tambah jauh. Udah biar saya sendiri aja. Udah biasa kok, Mas."
Mas Teddy tetap memaksa untuk mengantar, sedangkan gua bersikeras menolak karena nggak ingin merepotkan beliau. Akhirnya, sosok berbalut kemeja jeans itupun menyalami gua dan masuk ke dalam Xenia birunya.
"Tetap contact2an ya?" Ucap beliau sebelum menutup pintu.
Perlahan Xenia biru itu meninggalkan gerbang. Gua melambaikan tangan sampai mobil itu lenyap dari pandangan. Lalu menyetop taksi, meluncur pulang.
OBROLAN OFF AIR:
Saat “ugal-ugalan” bersama Teddy Sujaya hari itu memang ada banyak sekali momen2 yang tidak tersiar keudara, karena dibicarakan saat mic di studio sedang dimatikan. Berikut adalah beberapa hal menarik yang terjadi saat “off air” tersebut, yang gua anggap masih layak untuk diketahui khalayak. T (tanya): Waktu Godbless mendapat penghargaan sebagai artis legendaris dari Rolling Stone Indonesia tempo hari, kenapa Mas Jockie nggak naik ke atas?
TS (Teddy Sujaya): Dia nggak dipanggil sama anak2. Saya juga nggak dipanggil. Iman (Fattah) yang narik saya ke atas. Saya ajak Jockie karena saya ngerasa kita orang juga berhak atas penghargaan tersebut. Saya ngedrumin 5 album Godbless (sebenarnya 6 plus album History of Godbless yang ada remake 5 lagu lama Godbless), Jockie main di 4 album. Tapi Jockie nolak karena nggak dipanggil (sama personil Godbless). Saya juga tadinya mikirnya gitu, tapi saya pikir2 lagi, ya saya berhak juga dong. Kan album Godbless sampai yang terakhir semua saya yang ngedrum. Cuma kalau nggak ditarik Iman, saya nggak bakal naik. Iman yang ajak saya.
T: Benarkah sama sekali nggak nyesel keluar dari Godbless?
TS: Kalo soal keluar dari Godbless, saya nggak pernah nyesel. Cuma yang saya sayangkan kenapa waktu saya ribut sama Log, anak-anak diam aja, nggak ada yang belain saya. Cuma mau apa lagi? Saya udah ngomong begitu. Masa saya tarik lagi?
T: Masih cinta sama Godbless?
TS: Masih. Sampai sekarang masih. Wajarlah. Saya kan jatuh bangun sama Godbless udah dari tahun 75. Dulu itu saya yang jalan kesana kemari demi Godbless. Yang nemuin Godbless sama Akuang, Sumber Ria, itu ya saya. Bos2 itu kan adanya di Kota, mana ada yang di Selatan? Waktu Godbless pindah cukong dari Akuang, saya pernah ditodong pistol sama anak Bearland. Sampai begitulah pengorbanan saya buat Godbless. Waktu Apa Kabar dulu, saya yang nemuin Iyek, ngajak bikin album. Iyek bilang, Oke, tapi gua ajak Yan ya? Saya bilang ya silakan aja.
Dan yang paling mengezutkan adalah pengakuan Teddy Sujaya bahwa beliau sama sekali TIDAK PERNAH PUNYA DRUM! Nah lu!
“Bener, kalo nggak percaya tanya tuh anak2 Godbless. Mana ada saya punya drum.”
Terus kalo latihan?
“Kalo mau latihan drum, saya ke night club Blue Moon di Gajah Mada. Kalo siang kan tutup, orangnya pada tidur, nah saya main dah. Kalo udah capek, pulang. Kalo nggak sempet, saya latihan pake pad, ato main ping-pong. Belom lama ini saya dikasih drum sama Gideon Tengker, tapi baru aja nyampe, udah diminta ponakan. Ya udah saya kasih. Saya pikir, dia kan punya tempatnya, ada peredam. Anak saya juga ngeband sama dia. Dia belajar drum juga sama saya. Jadi ya paling kita yang kesana.”
Nah, itu bisa dapet solo drum gitu darimana?
“Ya latihan pake pad, sama imajinasi aja. Kalo sekarang mah enak, tinggal liat DVD, VCD. Kalo dulu paling ya ngebayangin aja.”
Wah. Luar biasa!
Lalu sekarang masih main drum?
“Oh, masih. Kadang ngumpul sama temen2, main Deep Purple, Zeppelin, lagu2 Godbless. Itu temen saya, bos Rheumason, dia kan punya set drum kaya punya John Bonham. Dia punya sound sama persis. Saya sering main kesana, nyoba.”
Kegiatan sekarang ngapain aja?
“Yaa bikin lagu buat album kedua anak saya. Masih kurang 2 lagu lagi. Dulu saya sempat kesel juga waktu album pertamanya beredar. Kayanya kurang dipromosiin gitu. Udah gitu di covernya juga ngga ada fotonya (maksudnya, foto Catherine - anak Mas Teddy). Harusnya kan dipasang, soalnya kan belum ada nama. Terus saya juga ada bikin lagu buat band Lentik.”
Wah, masih produktif ya Mas Teddy.
“Abis kita kalo nggak ngapa-ngapain ya pusing. Saya aja kalo nggak kena drum nih badan nggak enak. Kalo udah gitu, pergi dah ke tempat temen saya tuh yang boss Rheumason. Main gedebak gedebuk. Kalo udah keringetan, enak dah badan.”
Itulah sebagian pengakuan Teddy Sujaya yang diucapkan off the air. Mengejutkan memang, saat mengetahui kalau drummer yang pernah ngegeber lagu2 dengan beat seperti Gadis Binal, Friday on My Mind, Anak Adam, Musisi, Trauma dsb, ternyata seumur hidupnya tidak pernah memiliki drum. “Bingung mau taruh dimana.” Demikian jelas Mas Teddy. Tapi itu juga menjadi satu pemicu buat para drummer, bahwa memiliki alat bukan faktor utama. Bahwa yang penting adalah tekad dan determinasi. Ruarrr biasa ne!









