100% Godbless

100% Godbless

Selasa, 21 Desember 2010

Nonton Dua Godbless di Kamasutra

Oleh: Asriat Ginting (KPMI, FORMASI, GBC, penikmat musik)

Part I : The Meeting

Sabtu, 28 Februari 2009.
Tempat: Salah satu toilet di Plaza Semanggi.
Gua mengganti kemeja yang tadi pagi gua pake mengajar dengan kaos Def Leppard 7 Days Live Tour 1992. Lalu menuju multiplus untuk browsing sambil membunuh waktu.
Apa pasal?
Oke kilas balik sebentar. Awalnya dari rencana gua dan Iman untuk bertamu ke tempat Bang Donny, ngobrol-ngobrol seputar Godbless, terutama sekitar pembuatan album “Cermin”. Bang Donny memang sudah acc, tinggal mencari waktu luang beliau aja. Lalu jumat malam, saat sedang menulis peraturan tata cara menulis aksara Cina di whiteboard (sebagai persiapan kelas malam), HP berbunyi. Dari Iman.
“Mas, saya barusan telpon papah, kebetulan besok papah main di Kamasutra, Crowne Plaza, bareng Anak Adam. Gimana kalo kita ketemuan besok aja disana.”
“Jam berapa, Man?”
“Papah checksound dari jam 2, abis itu disana terus. Saya dari rumah sekitar jam 2 – jam 3. Nanti kita ketemu disana aja.”
“Sip.”
Besoknya setelah ngajar, gua berniat datang agak telat ke Kamasutra, dengan asumsi checksound yang memakan waktu kira-kira 1 jam, maka gua memutuskan datang jam 3 an. Tapi setelah dipikir ulang, gua memutuskan untuk menunggu sms/telpon dari Iman aja. Itulah makanya gua membunuh waktu di multiplus.
Jam 4 sore, HP berbunyi. Dari Iman. Mengabari kalau dia sudah ada di Kamasutra. Gua tutup internet, langsung jalan ke TKP.
Masuk Kamasutra, suasana remang-remang bikin bulu kuduk meremang. Karena nggak betah, gua keluar lagi, telepon Iman.
“Man, loe dimana?”
“Di dalam. Mas Asriat dimana?”
“Ini gua diluar.”
Maka akhirnya kita ketemu diluar Kamasutra. Aneh memang. Ini pertama kalinya gua bertemu langsung sama Iman, tapi udah merasa kaya ketemu teman lama. Mungkin karena sebelumnya sering bertemu di dunia maya, dan mungkin juga karena Iman ini “orang lama”  buat gua, alias gua sudah mengagumi hasil kerjanya bersama LAIN berrrtahun-tahun yang lalu, sebelum gua tahu kalau dia adalah anak Donny Fattah.
Setelah ketemu, Iman langsung ngajak ke dalam, menemui Bang Donny yang lagi asyik ngeliatin panggung.
“Pah, ini Mas Asriat.”
“Apa khabar Bang Donny?”
“Eh, Asriat. Silakan.”
Bang Donny mempersilakan gua duduk bersama beliau. Pertama memang suasananya agak canggung. Gua masih grogi yang efeknya membuat bingung mau ngomong apa. Akhirnya banyakan ngobrol sama Iman. Dengan Bang Donny dan istri beliau, cuma ngobrol tentang siaran Rock in Rabu kemarin yang Alhamdulillah ternyata beliau rekam! Selamat deh dokumentasi berharga tentang “Cermin”.
Nggak lama, datang kejutan lagi. Tau2 nongol Bang Iyek berserta mba Dewi (istri beliau). Begitu bersalaman dengan Bang Donny dan istri, beliau langsung duduk di pojokan.
 “Om Iyek, ini ada Mas Asriat.”
Bang Iyek langsung kaget.
 “Wah, apa khabar?” tanya beliau.
Gua berdiri, tadinya niatnya mau salaman, eeeh gua malah dipeluk. Wah-wah mimpi apa gua semalam? Lalu ngobrol dengan Mba Dewi soal siaran Rock in Rabu edisi 16 Juli yang ditujukan untuk memperingati ulang tahun Bang Iyek. Memang waktu itu Bang Iyek baru saja bebas, dan Mba Dewi yang jadi seksi repot mengurus jadwal wawancara dengan Bang Iyek (walau hanya via telepon, tapi hari itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Bang Iyek bersama kerabat beliau, sehingga waktu wawancara harus disesuaikan agar tidak mengganggu). Selain itu beliau juga sempat menanyakan khabar sepupu beliau yang tinggal di Belanda.
Lalu tiba waktunya checksound.


Part II : The Checksound

Ada 3 band yang melakukan checksound. Parcel, Laskar dan Anak Adam. Rupanya malam itu Bang Iyek akan tampil bersama Laskar. Ini session band yang digawangi musisi senior dan junior. Ada Yaya Moektio (drum), Mas Aris/Haris (bass), dengan 2 musisi muda (pemain gitar dan keyboard yang gua lupa namanya). Mereka mengiringi Andy rif, lalu mengiringi seorang vokalis cewek yang suaranya mirip banget dengan Nicky Astria, terakhir mengiringi Bang Iyek. Suasana checksound berlangsung hangat dan penuh humor. Namun ada kendala saat mereka memainkan “Musisi”. Jadi pas bagian backing vokal: “Kutuliskan kata hati ke dalam bait, oh tercipta lirik”, yang kalau live show Godbless biasa diambil oleh Donny Fattah, Mas Aris dan 2 cewek backing vokal Laskar merasa keteteran. Bukan pada tinggi nadanya, melainkan pada jatuh ketukannya. Maka pas kelar lagu “Musisi”, yang merupakan lagu terakhir di sesi checksound, para personil Laskar (kecuali Yaya Moektio tentunya) menghampiri Bang Donny untuk meminta pengarahan. Bang Donny lalu memberi contoh bagian-bagian vokal yang biasa beliau nyanyikan dalam lagu “Musisi”.


“Bass-nya bagaimana tadi Mas?” Tanya Mas Aris pada Bang Donny.
 “Ya udah oke kok. Yang penting ketukannya aja, nggak usah sama persis nggak apa.”
 “Wah, bagian backingnya susah juga ya. Takutnya mulut sama tangan ini nggak sinkron. Mulut bener tangan salah. Tangan bener mulut salah.” Kata Mas Aris lagi.
 “Atau bisa-bisa tangan mulut salah semua.” Celetuk sang keyboardis Laskar yang walaupun usianya masih muda bener, tapi udah punya skill ciamik yang patut diacungi jempol. Semua pada ketawa.
 “Ini lagu memang bener2 gila. Edan!” ucap gitaris Laskar.
 “Belum pernah di Indonesia ada band bikin lagu kayak gini.” Sambungnya lagi.
Setuju banget.
Setelah itu Bang Donny sempat bertanya pada Mas Aris:
"Itu tadi mainnya di E?"
"Iya, Mas."
"Wah..."
"Ya lumayanlah, mencret2 dikit." Timpal Bang Iyek.
Ternyata sebenernya nada dasar "Musisi" ini sekarang oleh Godbless sudah diturunkan ke C#, walau intro bass-nya tetap di E. Ini demi menyesuaikan dengan vokal Bang Iyek yang usianya sudah melewati kepala 6 itu. Tapi saat checksound, nada dasar yang diambil adalah E, sama seperti versi yang terdapat dalam album "Cermin". Dan ternyata lagi Bang Iyek masih kuat menyanyikan lagu tersebut, walau sebelumnya sudah menyanyikan 5 lagu.
          

Part III : The Chatting
Selesai checksound, Bang Donny, Iman, gua pindah lagi ke atas. Suasana masih rada kaku karena selain rame, juga gua masih belum nemu celah untuk memulai obrolan. Akhirnya ya ngobrol sama Iman lagi, karena sama dia memang banyak yang mau diobrolin. Soal LAIN, KPMI, teman-teman dia yang kebeneran ada juga yang gua kenal. Tapi sayangnya jam 7 malam Iman pamit cabut untuk menghadiri kawinan Ricky Seringai (walaupun nanti janji balik lagi ke TKP). Naaah, tinggal gua berdua sama Bang Donny. Eng-ing-eenggg...
Setelah tinggal berdua itu, justru obrolan gua dengan Bang Donny ngalir kayak banjir bandang. Gaya beliau yang tadinya banyakan diam sambil senyum, plus komentar2 singkat, berganti dengan gaya bercerita yang ceplas-ceplos. Kami banyak ngobrol soal Cermin, soal film dokumentasi Godbless yang sedang berjalan dengan produser Mira Lesmana dan disutradarai Riri Riza, juga soal keterlibatan beliau bersama Anak Adam. Ada juga hal-hal off the record yang nggak bisa gua ceritakan disini, bukan Bang Donny yang minta, tapi gua yang enggak mau itu diceritakan karena menyangkut pengalaman pribadi yang udahlah sebaiknya nggak usah diungkit lagi.
Soal Cermin nanti aja gua bahas kalau semua sudah lengkap. Sementara ini proses investigasinya sedang berjalan. Kita simak aja dulu obrolan berikut ini:
A (Asriat): Bisa cerita soal Anak Adam ini, Bang Donny?
BD (Bang Donny): Jadi saya dihubungi oleh Anak Adam. Mereka itu minta izin mengaransir
         ulang 5 lagu-lagu Godbless ciptaan saya untuk mereka re-arrange dengan
         versi mereka. Saya dukung dan saya bantu karena saya senang kreasi mereka.
         Sudah keluar kok berupa Ring Back Tone.
A: Apa akan keluar juga dalam bentuk CD?
BD: Ya. Saya kira begitu.
A: Lagu Godbless apa aja yang diaransir ulang?
BD: Huma Di Atas Bukit, Sesat, She Passed Away, Badut-Badut Jakarta dan
        Semut Hitam.
A: Bang Donny nanti main lagu apa aja?
BD: Belum tau. Saya belum tau repertoarnya.
A: Sekarang soal Godbless nih, Bang Donny. Apa yang membuat Godbless tau-tau
     berniat bikin album lagi?
BD: Sebenernya tadinya tuh kita udah malas. Lalu Abadi (maksudnya Abadi
       Soesman) datang ke saya. Bilang: Don, gimana kalau kita bangkitin lagi Godbless?
       Godbless ini asset Indonesia, bukan cuma punya lu aja. Ya akhirnya jalan deh.
A: Proses rekamannya sendiri?
BD: Oh, ini paling cepat. Cuma sebulan. Biasanya kan ada yang 6 bulan, setahun.
A: Jadi rilis bulan Maret?
BD: Sepertinya sedikit tertunda. Mungkin 2 bulan lagi.
A: Sekarang soal film tentang Godbless yang sudah mulai digarap. Bang
     Donny bisa cerita?
BD: Oh ya. Udah dimulai kok wawancara dengan kita. Saya udah, lalu Yek juga sudah.
A: Jadinya apakah film dokumenter atau film biografi seperti model2 The Doors nya
     Oliver Stone?
BD: Itu saya nggak tau. Saya serahkan saja sama mereka.
A: Kalau memang film dokumenter, apakah ada dokumentasi Godbless tahun 70an?
BD: Itu saya juga kurang tahu. Jaman itu kan boro2 dokumentasi, mikirnya bisa rekaman aja
       udah bagus. Kalo yang dari tahun 80an mungkin masih bisa dilacak. Biasanya
       yang megang filmnya kan pihak sponsor. Waktu itu perusahaan rokok.
A: Mungkin bisa diambil dari cuplikan film2 kayak Ambisi, Si Doel Anak Modern,
     dsb yang ada Godblessnya?
BD: Ya mungkin bisa juga.

Lalu datang Adam dan Pray (vokalis dan gitaris Anak Adam). Kami ngobrol2 seputar album2 Godbless dan performance Godbless saat membuka show Deep Purple tahun 75.

A: Sebenernya kenapa sih Godbless nggak main di hari pertama?
BD: Kita nggak dikasih. Drumnya Teddy ditendang sama bodyguardnya Deep Purple
       sampe ngeglinding.
A: Padahal banyak yang kecewa sama mainnya Deep Purple waktu itu. Malah banyak
     yang bilang mainnya bagusan Godbless.
BD: Ya karena kita panas aja digituin. Kita mau buktikan kalau Godbless juga nggak
        bisa dianggap enteng.

Seorang personil Anak Adam menanyakan tentang sejarah Godbless (Pray atau Adam gua lupa).

BD: Itu saya yang bentuk bareng Fuad Hassan. Sekitar tahun 68. Fuad waktu itu udah
       ngetop. Udah sering ngiringin artis besar.
T: Berdua doang?
BD: Iya. Saya main gitar, Fuad drum. Kadang sama Broery, kadang sama Idris Sardi.
T: Jadi bukan dibentuk sama Iyek?
BD: Bukaaan. Iyek masih di Belanda waktu itu. Baru pas dia pulang, sering tuh
       nongkrong bareng saya. Ikut nyanyi. Tanya aja Mia (Camelia Malik). Dulu kan
       dia istrinya Fuad. Dia yang ajak Iyek ke tempat saya. Nah, waktu itu Iyek kan
       juga ngajak temannya, Ludwig Lemans, pemain gitar. Makanya saya pindah ke
       bass.
T: Kalo Ian Antono?
BD: Kalau Yan masuknya pas Godbless udah punya nama. Jadi setelah Fuad meninggal,
       kita sempat gabung dengan Nasution Bersaudara (Pegangsaan), baru setelah itu
       sama Jockie, Yan dan Teddy. Yan tadinya main di Bentoel.
T: Dari dulu gayanya mas Ian di panggung sudah galak, Om?
BD: Apanya galak. Yan itu kan dulu pemalu banget. Waktu show pertama dia
       bareng Godbless, eh dia malah ngumpet di belakang ampli. Ya gimana mau jingkrak2,
       orang dia itu ngomong aja susah. Baru pas belakangan karena ngeliat yang lain
       jingkrak-jingkrak, dia ikut2an, eh malah galakan dia gayanya.. hehehe...
(Sebagai catatan agar para pembaca tidak salah paham, atmosfir saat Bang Donny menceritakan ini adalah penuh nuansa nostalgi dan canda. Jadi bukan untuk membangga-banggakan diri ataupun mengecilkan peran teman-temannya. Semata-mata karena beliau sedang ingin mengenang kisah2 lama yang kocak2).
Lalu nasi goreng datang. Kami makan bersama-sama. Lepas makan. Bang Donny permisi karena sudah ditunggu Trans TV dll untuk wawancara. Disini gua belajar lagi tentang kerendahan hati seorang legenda. Alih-alih istirahat di kamar hotel yang nyaman (waktu itu Bang Donny dan rombongan juga udah buka kamar di Crowne Plaza), eeeh malah nemenin gua, ngobrol bareng. Padahal beliau nanti akan naik panggung, yang mana waktu 1-2 jam juga lumayan dipakai untuk istirahat, siap2 dsb.
Saat Bang Donny wawancara, gua sempat bertanya pada Danu, roadies Anak Adam yang juga adik sang gitaris (Pray).
A: Anak Adam musiknya kayak apa sih?
D: Kaya Linkin’ Park gitu lah.
A: Ada rapnya dong?
D: Ada. Adam yang nge-rap.
Aha! Asik juga nih nonton Bang Donny memainkan lagu-lagu Godbless dengan warna Nu Metal. Kayak apa ya?





Part IV : The Show

Sekitar jam 21.00, penampil pertama naik ke atas panggung. Mereka adalah 5 remaja yang mengusung bendera PARCEL. Tiga lagu: Come Together-nya The Beatles, sebuah karya sendiri yang mengingatkan gua pada The Upstairs, dan terakhir Venus (Shocking Blue) mereka geber di atas panggung. Oke, gua tulis dulu sedikit tentang penampilan mereka.
Pilihan lagu sebenernya udah bagus. Paduan dari lagu-lagu lama dan lagu kreasi dhewek. Aransemen yang mereka balutkan pada Come Together dan Venus juga lumayan. Vokalis mereka pada dasarnya memiliki kemampuan olah vokal yang baik, sayang pelafalan Inggrisnya berantakan. Mungkin karena nggak hapal lyricnya, terutama di lagu Come Together. Padahal banyak juga bule yang datang menonton malam itu. Lagu karya sendiri yang mereka suguhkan pada penonton juga cukup asik dan menyegarkan, sayang saat memainkan Come Together, ada sound piano yang terdengar agak mengganggu, walau cuma sebentar aja nongolnya. Yang harus diperhatikan serius adalah seksi gebug. Roffel-roffel yang dia selipkan memang kadang mengagetkan dan menunjang aransemen lagu, termasuk di endingnya Come Together. Sayang pukulannya nggak stabil. Tempo masih naik turun. Ini perlu cepat dibenahi, mengingat musik yang diusung PARCEL ini menawarkan groove sebagai dagangan utamanya. Bassist-nya biasa aja. Permainannya effisien, nggak neko-neko. Gua malah tertarik pada pemain gitar mereka. Teknik bending dia pas solo Come Together pas banget. Mereka cuma harus lebih memperhatikan rythm section dan usahakan menghapal lyric dengan baik saat membawakan lagu-lagu barat.

Kelar PARCEL main, MC naik panggung untuk cuap-cuap. Intinya memperkenalkan tema acara malam itu, Rock Intergeneration. Perpaduan dari rocker senior dan junior. Seorang penonton setengah baya lalu digaet ke atas panggung. Berikut petikan percakapan mereka.
MC: Suka lagu-lagu lama, Pak?
Tamu: Suka.
MC: Kalo lagu-lagu Godbless gimana, Pak? Suka juga?
Tamu: Yaa, lumayan sukalah.
MC: Lagu Godbless apa yang Bapak suka?
Tamu: (terdiam)
MC: Waah, mungkin Bapak lupa judulnya ya? Kalau gitu bisa dinyanyikan aja
       Mungkin, Pak. Sedikit aja.
Tamu: ...Terimalah salamku, yang terakhir kali...
Kontan istri Bang Donny yang nonton di sebelah gua nyeletuk, “Itu mah Rollies atuh, Pak.” Hehe...
Walau salah menjawab, namun Bapak tersebut tetap mendapatkan oleh-oleh berupa 1 buah Majalah KORT.
“Bisa main gitar, Pak?” Tanya MC yang terdiri dari sepasang cewek – cowok itu.
“Nggak bisa.”
“Ya udah nggak apa-apa. Di majalah ini juga ada teks-teks lagu kok. Lumayan buat latihan nyanyi.”
Kelar cuap-cuap, MC ngeloyor turun panggung. Di atas sudah siap LASKAR dengan seorang vokalis cewek yang tadi sore udah gua liat pas checksound. Setelah basa-basi sedikit, 3 lagu mereka usung. Satu lagu barat dan 2 lagu Nicky Astria: Bias Sinar dan Uang. Dari segi vokal dan penampilan, jelas keliatan kalau vokalis cewek yang gua nggak tau namanya ini udah kenyang makan asam garam di panggung. Stage Act nya didukung oleh pilihan kostum hitam yang sexy namun nggak norak. Gayanya juga enak dilihat. Yang jelas, suaranya dahsyat. Kena banget bawain lagu-lagu Nicky Astria. Kelar 3 lagu, dia turun panggung. Penggantinya? Andy rif, yang sorenya juga sempat gua liat saat checksound. Pertama, Livin’ On a Prayer dari Bon Jovi dia geber. Warna vokal memang mirip banget, sayang pas bagian akhir, dimana nada dasarnya dinaikin 1, Andy keteteran. Kelar Livin’ On a Prayer, penonton dihentak dengan 1 nomor lama KANSAS: Carry On Wayward Son. Agak deg-degan juga pas nonton mereka mainin lagu ini, karena pas dicoba saat checksound masih berantakan. Untung lagu berjalan mulus. Kelar 2 lagu, penonton masih minta tambah. Kali ini Andy menyuguhkan satu tembang dari U2, “With Or Without You”. Di lagu ini dia tampil pol-polan, seolah ingin menebus penampilannya yang kurang memuaskan pada lagu pertama tadi. Memang disini Andy nyanyinya dahsyat banget. Mungkin karena dulu sebelum rekaman (atau naik kaset – istilah jadulnya), rif cukup sering juga menggelar nomor-nomor U2 di atas panggung.

Kelar 3 lagu, Andy ngeloyor walaupun penonton masih minta tambah. Mungkin karena schedule yang ketat dan masih ada 2 band lagi yang akan tampil.
MC kembali naik panggung untuk cuap-cuap. Kali ini sejarah Godbless yang mereka ulas. Dari album pertama sampai terakhir mereka ceritakan dengan ringkas sambil ngintap-ngintip contekan di tangan. Yang kocak pas mereka lagi nyeritain album Raksasa.
MC Cewek: Pada album tersebut, Ian Antono keluar, dan posisinya digantikan oleh...
                  mmm... Eet Syaharanie.
 .. Eet Syaharani and The Queen Fireworks???
Saat itu Iman mengajak gua turun karena gua berniat mengambil rekaman show dan juga foto-foto Bang Donny serta Bang Iyek, dan kebeneran bagian depan panggung juga masih kosong. Namun apes buat Iman, dia ke-gep dan dipaksa naik ke atas pentas. Setengah mati dia menolak tapi akhirnya nyerah juga. Tadinya MC nggak mengenal Iman, namun setelah dibisiki kalau ia adalah anak Donny Fattah, MC langsung sumringah.

“Namanya siapa, Mas?”
“Robert. Robert Chaniago.”
“Oke Mas Robert, kita ngobrol-ngobrol sebentar yuk.”
Sementara Iman “Robert” ngobrol dengan MC, awak Anak Adam nampak bersiap-siap di atas panggung. Kelar wawancara, ia mendapat hadiah 1 buah majalah KORT buat “ngulik”, demikian kata MC. Haha..
Lalu giliran Donny Fattah didaulat naik ke atas panggung. Sambil menenteng bass berwarna hitam dan mengenakan kostum serba hitam, beliau menjawab pertanyaan2 kedua MC.

MCow (MC cowok): Selamat malam Om Donny. Wedeeeh, Bassnya kenapa dipeluk
               terus Om Donny?
DF (Donny Fattah): Takut lari.
MCow: Om Donny kan menciptakan lagu-lagu seperti Badut-Badut Jakarta, Semut
            Hitam, dan lain-lain yang diaransemen ulang oleh Anak Adam. Nah, menurut
            Om Donny apa sih susahnya mengaransemen lagu-lagu tersebut untuk
            Disesuaikan dengan musik-musik sekarang?
DF: Kalau aransemen baru memang dia harus berani untuk keluar dari aslinya. Misalnya
       lagu Semut Hitam itu kan aransemennya udah baku, udah dihapal oleh banyak fans
       Godbless, jadi dia harus berani keluar untuk berkreasi untuk membuat sesuatu yang
       lain. Itu tantangan berat buat Adam dan Pray (vokalis dan gitaris Anak Adam yang
       mengaransir ulang lagu-lagu Godbless).
MCew (MC Cewek): Tapi, so far menurut Om Donny tantangan yang Om Donny
             berikan pada Adam dan Pray itu berhasil nggak?
DF: Berhasil sekali, makanya saya bantu dia sekarang.
MCew: Weee.. tepuk tangan dong! Berhasil sekali katanya.
MCow: Melebihi ekspektasi Om Donny jangan2?
DF: Ya, ya, ya. Warnanya lain sekali.
MCew: Kalau begitu, supaya kita tau denger sendiri warnanya kayak apa, langsung aja
           kita saksikan penampilan dariii.... Anak Adam!
Anak Adam yang sedari tadi sudah bersiap di atas panggung langsung menggeber nomor pertama: Badut-Badut Jakarta, sementara backgroundnya menampilkan cuplikan film dokumenter yang menampilkan gedung DPR/MPR, beberapa potongan sidang, dan wajah-wajah yang nampak familiar. Aransemennya memang membuat kaget bagi mereka yang sudah terlanjur akrab dengan versi album “Semut Hitam” alias “Godbless 88”. Aransemen aslinya yang didominasi keyboard dirobak total. Belum abis kaget ini, Anak Adam langsung ngegeber lagu kedua: Sesat. Masih dengan balutan Nu Metal yang pekat. Vokal Adam bolehlah diacungi jempol. Tidak keteteran dalam mendaki nada-nada tinggi, kontrol vokalnya juga bagus. Jari-jari Donny Fattah yang biasanya aktif berkeliaran di fret-fret bass saat menggeber lagu-lagu bersama Godbless, kini lebih banyak menekankan groove. Beliau nampak asyik melebur bersama musik Nu Metal yang diusung Anak Adam malam itu. 

Kelar lagu Sesat, Adam sang vokalis berbasa-basi sejenak, memperkenalkan kedua lagu tersebut kepada para penonton. Kelar basa-basi, terdengar intro piano disusul lengkingan vokal: I feel down and out... Should I get back, or should I cry.. disusul raungan gitar. Astaga, She Passed Away yang aslinya slow galau, dipermak habis-habisan. Lengkap dengan rap ala Linkin’ Park. Untuk masalah keberanian, gua acungi empat jempol pada Anak Adam. Mengaransir lagu-lagu Godbless yang sudah terlanjur punya trade mark tersendiri, butuh keberanian besar. Apalagi kalau aransemen itu jauh dari warna aslinya. Masalah bagus atau nggak itu berpulang ke selera masing-masing. Kalau ingin mendengar bagaimana lagu-lagu lama Godbless direinkarnasikan dalam format yang lebih kekinian, rilisan Anak Adam ini jelas highly recommended. Kalau hanya ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lama Godbless lain lagi ceritanya.

Oke, kembali pada penampilan Anak Adam, setelah She Passed Away, terdengar bunyi sampling berupa beat-beat drum. Lagu apa lagi ini? Ternyata Huma Di Atas Bukit yang lagi-lagi dirombak total. Disini jelas kelihatan kalau Anak Adam ,dengan kreasi mereka, siap menanggung resiko “love ‘em or hate 'em."


Kelar introduksi dari Adam, kembali terdengar intro gitar. Sama sekali nggak ketebak lagu-lagu Godbless yang akan mereka mainkan karena semua atribut khas Godbless udah mereka lucuti dengan hanya menyisakan nada-nada lagu dan lyric yang mereka balut dengan aransemen a la mereka. Pas masuk vokal, baru ketahuan kalau kali ini mereka menggeber lagu “Semut Hitam”. Kelar bait pertama, Adam berteriak: “Sekarang kita sambut... Achmad Albar!” Penonton sontak berteriak histeris. Dari samping panggung, Iyek yang mengenakan jaket plus celana kulit berwarna hitam berlari menghampiri mic dan berduet dengan Adam meneruskan sisa lagu “Semut Hitam”. Ada sedikit perbedaan pada aransemen lagu “Semut Hitam” versi Anak Adam ini jika dibandingkan dengan lagu-lagu lain yang mereka mainkan malam itu, yaitu dengan disisipkannya sedikit warna Rush di tengah dan akhir lagu. Ganas!

Kelar Semut Hitam, Anak Adam turun panggung. Iyek mengajak penonton memberi applaus pada Anak Adam sekaligus memberi pujian pada mereka. Panggung kembali diisi oleh anak-anak LASKAR. Sementara para personil LASKAR bersiap-siap, Iyek berkomunikasi dengan penonton.
“Malam ini saya akan mengajak anda semua bernostalgia dengan lagu-lagu Godbless...” yang tentu saja disambut teriakan riuh dari penonton.
“Anda masih ingat nggak lagu2 Godbless?”
“Masiiih!” Teriak penonton.
“Kita akan coba buka dengan satu nomor lama dari Godbless... Bla..Bla..Blaaa!!!”
Intro Bla-Bla-Bla lalu mengalun dengan sedikit ketidak sinkronan antara keyboard dan drum. Namun setelah itu semua berjalan lancar.

Lagu kedua dalam Achmad Albar's tour de force ini adalah Kehidupan yang aransemen drumnya sudah dirombak menjadi “Khas Yaya” dengan hentakan double bass drum yang nyelip di beberapa bagian lagu. Personil lain juga nampak fasih menginterpretasikan lagu-lagu Godbless secara teks book, dalam artian sama persis plek. Kalau orang buta yang nonton pasti akan nyangka Godbless beneran yang main.

“Tepuk tangan juga buat Yaya Moektio. Godbless juga nih, asli. Asli lho..” Ucap Bang Iyek kelar lagu “Kehidupan”.
“Lagi! Lagi!” Teriak penonton.
“Yeaa. Apa lagi ya? Lagu-lagu Godbless yang kalian kenal apa lagi? Tanya Iyek.
“Panggung Sandiwaraaa!” Teriak penonton lagi.
“Panggung Sandiwara? Oke deh kita coba. Nyanyi bareng tapi ya?”
“Siaap! Siaap!” Balas penonton.
 “Semangat dikit. Udah datang bayar mahal-mahal disini kalau diem aja ngelamun buat apa?” Ucap Iyek bercanda. Penonton ketawa. Memang gua perhatikan sejak datang di Kamasutra mood Bang Iyek sedang bagus. Saat checksound malah beliau sampai nambah satu lagu walau sudah distop.

Lalu meluncurlah intro Panggung Sandiwara. Bukan versi akustik seperti yang belakangan kita saksikan dalam show-show Godbless, bukan juga versi aslinya yang terdapat dalam soundtrack film Duo Kribo. Yang mereka mainkan malam itu adalah versi remake-nya. Penonton (jelas termasuk gua dan Iman yang nonton paling depan) kompak pada koor bareng. Wah bener2 mengharukan. Apalagi vokal Iyek sendiri malam itu sedang dalam top form. Nggak meleset saat mendaki nada-nada tinggi. Apalagi didukung dengan 2 backing vokal cewek yang cukup sukses menjalankan tugas mereka.
“Ada sebuah lagu dari Yockie Suryoprayogo. Dari saudaraku Yockie Suryoprayogo. Mungkin anda masih ingat. Ini tentang jilat-menjilat. Menjilat...Matahari!” Ucap Iyek selepas lagu Panggung Sandiwara. Emosi penonton langsung naik. Lagu ditutup dengan aksi sang gitaris unjuk kebolehan sesaat yang mendapat applaus meriah dari penonton.
 
Kelar Menjilat Matahari, gua berteriak minta lagu “Musisi”.
“Wah, Musisi... Oke kita coba ya?” Jawab Iyek. “Siaap? Sebuah karya dari Donny Fattah! Tepuk tangan untuk Donny!” Penonton sontak memberi applaus.
Apalagi saat intro bass masuk. Penonton tambah gila. Apalagi gua. Ini lagu penuh kenangan. Lebih senang lagi karena yang dimainkan adalah versi “Cermin” yang sama persis sampai ke solo keyboard dan gitarnya. Atraksi sahut2an antara keyboard dan gitar di tengah lagu lagi2 mengundang applaus meriah dari penonton. Ada insiden kecil di tengah lagu, dimana salah satu cymbal yang dipakai Yaya hampir jatuh kalau nggak keburu ditangkap Iyek. Tapi keseluruhan lagu tetap berjalan lancar sampai baris penutup:
“Dengarlah, ketuk nada dalam birama
  Inilah getar jiwa bagi musisi.”
Luar biasa. Menurut gua nggak ada dan nggak akan ada lagi penulis lagu yang bisa mendefinisikan gelora jiwa seorang musisi lebih baik dan lebih indah dari Donny Fattah. Hanya dengan 2 kalimat di atas beliau bisa menjelaskan bahwa anugerah terindah bagi seorang musisi yang bisa membuat jiwanya bergetar adalah saat mendengar karyanya dimainkan.
Selanjutnya Bang Iyek memanggil Adam dan Andy rif naik ke atas panggung. Namun sebelumnya kedua MC kembali cuap-cuap. Intinya berterima kasih kepada pendukung acara, majalah KORT, dll berikut informasi kalau bulan depan Godbless akan merilis album baru.
Udah ketebak apa yang bakal dinyanyikan mereka bertiga (Achmad Albar, Adam dan Andy rif). Rumah Kita dari album Godbless 88.
“Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini. Rumah Kita.”
Kelar udah acara. Menyaksikan dua “Godbless” di atas panggung, satu dalam warna Nu Metal, satu dalam warna original. Bener-bener paket 2 ini 1 yang sensasional!
Jam 1 lewat, gua berpisah dengan Bang Donny dan keluarga di depan Crowne Plaza.
“Terima Kasih ya. Main-mainlah ke rumah. Salam juga buat istri.” Ucap Bang Donny sebelum kami berpisah.
Sungguh malam yang penuh anugerah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar