Oleh: Asriat Ginting (KPMI, FORMASI, GBC, penikmat musik)
Setelah 10 tahun, hari Sabtu kemarin, 25 Agustus 2007, gua kembali menyaksikan penampilan full Godbless di atas panggung di Parkir Timur Senayan. Acara gratisan ini disponsori oleh Partai Amanat Nasional dalam rangka ulang tahun ke 9 partai tersebut.
Acara yang sedianya dijadwalkan mulai pukul 19.30 itu baru dimulai pukul 20.00 lewat. Galagasi, band muda beraliran rock jadi band pertama yang tampil membuka show Godbless malam itu. Tampil dengan formasi barunya, Galagasi yang artinya “Laba laba besar” menggeber 5 lagu, namun tak satupun lagu yang dicomot dari album perdana mereka (Tentang Manusia – 2006). Dua lagu pertama diambil dari album mereka yang katanya akan dirilis tahun depan. Selesai 2 nomor keras tersebut, Galagasi menurunkan tempo mereka dengan memainkan sebuah nomor slow dari soundtrack film De Bijis, “Kau Nyata”. Nomor ini mengingatkan gua pada lagu-lagu slow Quireboys atau Faster Pussycat. Agak ngeblues dan cukup ampuh untuk mengambil hati penonton. Kelar “Kau Nyata”, emosi penonton dinaikkan lagi dengan sebuah nomor lawas milik The Beatles, “Come Together” yang mampu mereka hadirkan dengan aransemen baru yang segar. Sebagai lagu kelima (lagu terakhir dari Galagasi), band yang dimotori oleh Evan antono (drums) dan Rocky Antono (bass) ini menggeber sebuah nomor rock klasik karya ayah mereka, Ian Antono : “Neraka Jahanam”nya Duo Kribo. Wah, mantap dah.
Selesai Galagasi, gua menengok berkeliling. Ternyata sudah cukup banyak penonton yang datang. Padahal saat gua datang ke lokasi acara ini pada pukul 18.35, yang datang baru 100an orang. Sempat pesimis juga, “Apakah Godbless sudah dilupakan penggemarnya, sampai-sampai konser gratisan aja nggak menarik penonton?” Apalagi di hari yang sama digelar Urbanfest di Pantai Karnaval dan Ulang Tahun RCTI (di Senayan juga). Ternyata pesimisme gua itu tidak beralasan. Kelar Galagasi, udah ada sekitar 1000 penonton yang datang. Godbless naik panggung?
Oh, nanti dulu. Setelah panggung dirapikan usai Galagasi main, MC kembali naik panggung. Kali ini mengumumkan penampil berikutnya yang ternyata adalah seorang penyanyi jalanan bernama julukan Mantri Country. Katanya sih mereka ‘merekrut’ penyanyi jalanan ini dari kawasan Blok M, sebagai bukti bahwa PAN tidak pilah-pilih dalam mencari artis untuk mengisi acara ulang tahunnya ini. Bahkan penyanyi jalananpun mereka ajak untuk menyalurkan kreativitasnya di atas panggung. Bener enggaknya? Wallahu Alam.
Mantri Country lumayanlah untuk membuat penonton santai sejenak. 2 lagu yang ia nyanyikan dengan iringan gitar elektrik yang setemannya fals itu cukup menghibur. Susah menjabarkan musik Mantri Country ini. dibilang country juga bukan. Agak ngeblues tapi pola gitarannya mirip-mirip Sonic Youth gitu. Lirik lagunya sendiri berkesan asal-asalan. Yang pertama ngalor ngidul cerita tentang “Makan tomat pake ayam”, sedangkan lagu kedua yang riff-nya rock and roll bertema tentang pipis. “Waktu tidur aku pipis, selimut kasur basah semua, paginya aku dijewer mama, sakit-kit-kit. Aku kapok, sekarang sebelum tidur, aku pipis dulu.” Kira-kira begitulah lirik lagu kedua Mantri Country ini.
Selesai penampilan Mantri Country, muncul Jet Liar (bukan dibaca Jet Laier seperti sering diucapkan orang). Band yang udah lama nggak kedengeran kabarnya ini tampil dengan formasi Fail (gitar), Yessy (ritem), Iwan Xaverius (bass), Bakkar (drums) dan Nicky (vokal). Tanpa basa-basi, panggung mereka geber dengan lagu-lagu dari album mereka yang katanya akan dirilis tahun ini. Satu lagu Godbless, “Srigala Jalanan” mereka mainkan malam itu. Dilihat dari segi musikal, lagu-lagu cadas milik mereka sih cukup menjanjikan. Apalagi didukung oleh musisi yang kenyang makan asam garam di blantika rock Ibu Pertiwi seperti Iwan dan Bakkar. Khususnya yang terakhir disebut - pukulan drum-nya terdengar begitu enerjik, plus rofel2 drum khas Bakkar (rentetan snare drum dipadu dengan double pedal yang sering muncul di lagu-lagunya Rotor dulu).
Setelah Jet Liar turun panggung, muncul lagi seorang penyanyi jalanan. Kata MC, penyanyi ini bernama Gimin, yang “direkrut” dari kawasan Senen. Lagi-lagi dengan embel2 “sebagai bukti bahwa PAN tidak pilah-pilih.” Mas Gimin ini jauh lebih mendingan daripada Mantri Country. 2 lagu yang ia nyanyikan (salah satunya berjudul Ras-Kin) sarat sentilan. Lirik lagunya juga lugas namun cerdas. Iseng gua liat monitor layar yang terbentang di sebelah kiri panggung. Oalah jaann, ternyata Mas Gimin itu tak lain adalah Cak Gareng, arek seniman yang sering nongkrong di Wapres (Warung Apresiasi) bulungan. Beberapa kali gua sempat ketemu dia di rumah salah seorang teman gua yang tinggal di kawasan Ulujami. Wah, bisa-bisanya nih Cak Gareng ngebuka show Godbless.
Naa.. akhirnya, setelah kurang lebih 2,5 jam menunggu, Godbless naik panggung. Penonton yang saat itu sudah mencapai sekitar 5000 orang lebih langsung bersorak kegirangan menyambut dedengkot rock Indonesia ini. (Gua sendiri nggak tau pasti jumlahnya. Gua hanya membandingkan jumlah penonton dengan saat Napalm Death main di Pantai Festival Ancol. Nah, penonton malam itu kira-kira ya segitu lah.) Setelah intro, Iyek berlari masuk ke panggung dan menyapa penonton dengan teriakan khasnya “Selamat malam Jakarta!”. Tanpa basa-basi, panggung langsung mereka gebrak dengan nomor klasik milik Gong 2000, “Kepada Perang” yang disambung dengan “Bla-Bla-Bla” dari album Godbless “Semut Hitam”. Setelah 2 nomor tersebut, Iyek kembali menyapa penonton dan berkomunikasi sejenak dengan mereka. Sebagai lagu berikutnya, 2 lagu milik Gong 2000 kembali mereka sajikan: "Lidah Petaka" dan “Rindu Damai” yang disambut penonton dengan nyanyi bareng.
Kelar “Rindu Damai”, terdengar gamelan Bali mengalun, plus cuplikan klip seorang penari Bali yang nampak di monitor layar yang terpampang di kiri-kanan panggung. “Parawijil sira sang nata ratu. Bepraya awarah-warah akene. Kelawan tasira prajurit muang paliwara makabehan...” Ya, itulah intro “Laskar”, dari album Gong 2000 berjudul sama. Penonton kembali jejingkrakan. Namun lagu itu tidak penuh dibawakan Godbless, mereka menyambungnya dengan satu nomor legendaris Godbless yang ditandai dengan intro bass Donny Fattah. Apalagi kalau bukan “Musisi” dari album “Cermin”. Aransemen lagu ini mereka ubah sedikit. Ada perubahan kord dasar antara intro, lagu, bagian melodi (lead) dan ending. Mungkin nada dasar lagunya disesuaikan dengan vokal Iyek, sementara intro, ending dan bagian melodinya tetap memakai kord asli. Yang menarik lagi malam itu adalah permainan Yaya Muktio yang enerjik dan kelihatan mulai selaras dengan permainan Godbless. Tak disangkal, Yaya membawa nafas baru dalam permainan Godbless malam itu. Beat-beat dan roffel yang ia hadirkan sangat variatif. Kadang ditingkahi dengan permainan double pedal yang tak pernah gua dengar dalam show-show Godbless sebelumnya. Sebagai catatan, tahun 2005 gua juga menonton show Godbless sewaktu membuka konser Uriah Heep dengan drummer Gilang Ramadhan. Waktu itu, terasa permainan Gilang masih belum padu dengan lagu-lagu Godbless, walau tak bisa dibilang jelek. Ia seakan takut mengambil roffel maupun menampilkan variasi pukulan. Tapi malam itu Yaya terlihat berani mengambil inisiatif dengan roffel-roffel drum yang kadang jatuh di ketukan ganjil. Gua pribadi sangat berharap Yaya bisa terus bersama Iyek dkk. Kehadirannya jelas memberi darah segar dalam tubuh Godbless.
Setelah “Musisi”, panggung kembali mereka hentakkan dengan sebuah nomor keras (“Karya sahabat kami Jockie.” Demikian ucap Iyek diawal lagu), “Menjilat Matahari” dari album “Raksasa”. Nomor ini disambung dengan satu karya Jockie lagi, kali ini “Kehidupan” dari album “Semut Hitam”. Wah, reaksi penonton di lagu ini bener2 gila2an. Gua sampai takut pagar yang membatasi kiri panggung roboh digoyang penonton. Tak heran karena “Kehidupan” adalah salah satu dari nomor yang sangat ditunggu penonton. (Sebagai catatan: area penonton dibagi menjadi 3 bagian. Bagian kiri dan kanan alias “kelas festival” diperuntukkan bagi “masyarakat banyak”, sementara bagian tengah alias “kelas VIP” diperuntukkan bagi “para petinggi PAN dan undangan” ketiga bagian itu dipisah oleh 2 pagar besi setinggi 1 meter.)
Lagu berikutnya ditandai dengan intro piano dari Abadi Soesman. Soetrisno Bahir, ketua PAN naik ke panggung. Lagu “Rumah Kita” menggema, diikuti seluruh penonton yang hadir, termasuk Soetrisno Bahir yang ada di atas panggung.
Berikutnya, set akustik yang hanya menampilkan Ian Antono, Abadi Soesman dan Iyek. Bertiga mereka melantunkan Syair Kehidupan dengan Ian dan Donny pada backing vocal. Suara Iyek sendiri tenggelam dalam badai koor ribuan penonton. Bener-bener merinding gua kali ini. Juga waktu lagu berikutnya, “Panggung Sandiwara” dimainkan. Reaksi penonton yang hapal dan ikut nyanyi bareng membuktikan bahwa setelah lama mereka tak menyapa pendengarnya, Godbless masih mendapat tempat di hati para penggemar fanatik mereka (walaupun kedua lagu ini sebenarnya adalah lagu solo Iyek).
Kelar set akustik yang membikin merinding itu, tadinya Godbless ingin memainkan Anak Adam, namun mungkin karena titipan panitia, maka akhirnya yang dimainkan duluan adalah “Menanti Kejujuran”. Sebuah lagu milik Gong 2000 dari album “Laskar” yang juga menjadi tema acara malam itu. Mantan ketua umum PAN, Amin Rais naik ke panggung dan memberi sepatah-dua patah kata disela-sela lagu ini. “Bangsa Indonesia saat ini sedang menanti kejujuran.” Begitu ucapnya. “Tanpa kejujuran akan muncul korupsi dan kemunafikan. Mari bersama Achmad Albar kita menyanyikan Menanti Kejujuran!”
Sebagai nomor penutup malam itu, Godbless memainkan “koncian” mereka seperti waktu di Soundrenaline 12 Agustus lalu. “Anak Adam”, dimedley dengan “Bara Timur” dan “Semut Hitam”, lengkap dengan semburan kembang api dan meriam yang menembakkan potongan kertas warna-warni diakhir lagu.
Akhirnya selesai sudah malam yang berkesan itu. Penampilan Godbless memang patut diacungi jempol. Iyek sangat komunikatif dengan penonton. Diluar sedikit kesalahan yang dilakukan (gua lebih suka menyebutnya “meleset-meleset”), mereka tampil all-out menghibur para penggemarnya malam itu.
Terima Kasih Godbless!
Daftar lagu yang dimainkan:
01. Kepada Perang
02. Bla-Bla-Bla
03. Lidah Petaka
04. Rindu Damai
05. Medley: Laskar/Musisi
06. Menjilat Matahari
07. Kehidupan
08. Rumah Kita
09. Syair Kehidupan (akustik)
10. Panggung Sandiwara (akustik)
11. Menanti Kejujuran
12. Medley: Anak Adam/Bara Timur/Semut Hitam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar